Powered by Blogger.

Ringkasan Pemikiran Keynesian Baru

1
1. Pendahuluan

Depresi besar yang terjadi pada tahun 1930 telah mendorong J.M. Keynes untuk menerbitkan buku The General Theory yang menawarkan penyelesaian untuk mengatasi depresi tersebut. Pemikiran Keynes kemudian berkembang dan dianut oleh banyak negara hingga empat dekade. Sekitar tahun 1970 terjadi stagflasi yang merupakan merupakan masalah besar dalam perekonomian dunia karena terjadi inflasi yang tinggi yang diikuti oleh tingkat pengangguran yang serius. Stagflasi ini tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan kerangka pemikiran Keynes. Hal ini mengakibatkan para ekonom mulai meninggalkan pemikiran Keynes dan Kurva Phillips, yang merupakantrade-off antara besarnya inflasi dan pengangguran, juga mulai ditinggalkan dalam konsensus ekonomi makro. Stagflasi ini lebih banyak disebabkan oleh terganggunya penawaran agregat, yang berbeda dengan analisis Keynes yang menyatakan bahwa penyebab utama fluktuasi adalah adanya pergeseran permintaan agregat. Landasan mikro dari pemikiran Keynes mulai dipertanyakan dan pemikiran Klasik Baru mulai mendominasi menggantikan pemikiran Keynes.

Pemikiran Klasik Baru terus berlanjut dan kebanyakan tidak mau memasuki teori tentang siklus bisnis yang berdasarkan market clearing. Padahal dalam pemikiran Keynesian teori tentang siklus bisnis mendapat perhatian yang cukup banyak. Sehingga tidak heran kalau ide Keynesian terus berkembang dan muncul lagi sekitar tahun 1980 dan sering disebut Kelompok Keynesian Baru. Keynesian Baru mengawali teorinya dengan premis bahwa dalam perekonomian terdapat pengangguran tidak suka rela dan menetap (persistent) serta fluktuasi ekonomi merupakan pusat dari semua persoalan dalam perekonomian, seperti: represi dan depresi yang merupakan representasi dari kegagalan pasar untuk skala besar. Keynesian Baru juga menempatkan pembaruan dalam landasan mikro ekonomi. Pembentukan teori makro ekonomi berdasarkan pengembangan teori mikro ekonomi untuk pasar barang, pasar tenaga kerja, dan pasar modal.

Pemikiran Keynesian Baru tetap mempertahankan tradisi dari Keynesian yaitu adanya kekakuan dalam harga dan upah nominal, sehingga Keynesian baru berusaha untuk mencari penjelasan yang lebih dapat diterima. David Romer merupakan salah satu tokohnya dan berpendapat bahwa pasar tidak berkompetisi sempurna dan ada penghalang untuk menerapkan harga nominal yang fleksibel. Lebih jauh Romer menekankan adanya komplemen antara kekakuan nominal dan riil. Adanya kekakuan riil dapat meningkatkan kekakuan nominal (Romer, 1993). Sedangkan Bruce Greenwald dan Joseph Stiglitz yang juga masuk dalam kelompok ini, menawarkan pendapat lain. Mereka berpendapat bahwa adanya pasar yang tidak sempurna dapat menyebabkan bermacam-macan hal, seperti: meningkatnya biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat dan terjadinya informasi yang tidak sempurna.
2. Pokok Pemikiran Aliran Keynesian Baru

Pemikiran dalam kelompok Keynesian Baru sangat beragam termasuk di dalamnya Mankiw, Summers, Stanley Fisher, Phelps, Akerlof, Yellen dan tiga nama yang telah disebutkan dalam Pendahuluan. Mankiw merupakan salah satu tokok yang paling banyak kontribusinya dalam pengembangan teori maupun dalam mengumpulkan artikel yang berhubungan dengan Keynesian Baru.

Perhatian utama dalam Keynesian Baru adalah mencari model yang kuat dan meyakinkan untuk menjelaskan adanya kekakuan upah dan harga dengan berlandaskan pada memaksimalkan perilaku dan ekspektasi rasional. Disamping itu, Keynesian Baru juga menaruh perhatian pada penelitan tentang proses penyesuaian harga yang terjadi di perusahaan. Sampai saat ini para ekonom belum mempunyai kesatuan pendapat tentang kebijakan perusahaan dalam hal penyesuaian harga. Kelompok ini juga tidak sepenuhnya menolak pandangan Klasik Baru. Walaupun demikian Keynesian Baru tetap memberikan sokongan kepada pandangan Keynes yaitu:

Dalam perekonomian, adanya pengangguran yang tidak suka rela selalu berlaku.


Pemerintah perlu secara aktif menjalankan kebijakan untuk mengatasi masalah pengangguran dan atau inflasi dan mewujudkan kegiatan pada kesempatan kerja penuh. Dalam hal ini Keynesian Baru berkeyakinan bahwa dalam jangka panjang ekonomi pasar masih tidak akan mampu dengan sendirinya menciptakan kesempatan kerja penuh, sehingga tetap dibutuhkan adanya kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah yang dimaksudkan di sini adalah yang bersifat untuk mengurangi terjadinya ketidaksempurnaan pasar.

Pemikiran Keynesian Baru tentang adanya fluktuasi juga berbeda dengan pemikiran Keynes maupun Klasik. Perbedaan pandangan ini secara umum dapat dibedakan berdasarkan keyakinan berlakunya dikotomi klasik dan keseimbangan Walras,

3. Kekakuan Upah dan Harga

Pada dasarnya Keynesian Baru berpendapat bahwa walaupun terdapat pengangguran yang tidak suka rela dan kelebihan penawaran barang pada masa resesi, harga-harga barang tidak menurun ke tingkat yang akan mewujudkan kesempatan kerja penuh. Adanya bentuk pasar yang bukan persaingan sempurna, pasar yang tidak lengkap, dan informasi yang tidak simetris membuat harga barang bersifat kaku dan tidak mudah berubah seperti pada pasar persaingan sempurna. Untuk menjelaskan kekakuan baik kekakuan harga maupun kekakuan upah, Keynesian Baru mengemukan beberapa teori.
3.1. Penyebab Kekakuan Upah
3.1.1. Model Kontrak Implisit
Model ini aslinya berasal dari Bailey (1974), D.F. Gordon (1974), dan Azariadis
(1975). Kemudian dikembangkan menjadi hipotesis tingkat alamiah (natural rate
hypothesis) oleh Friedman (1968) dan Phelps (1968) yang lebih menekankan proses

memaksimumkan perilaku untuk pasar tenaga kerja. Secara ringkas model ini menunjukan bahwa upah pekerja di suatu perusahaan ditentukan secara kontrak antara majikan dan serikat pekerja. Serikat pekerja akan melakukan negosiasi dan menandatangani kontrak kerja diantara pekerja yang diwakilinya untuk suatu periode tertentu. Selama masa kontraktersebut baik majikan maupun pekerja akan mematuhi keputusan yang telah disetujui. Perubahan-perubahan dalam kegiatan ekonomi, seperti misalnya: resesi dan inflasi, tidak akan dengan mudah membuat perubahan kontrak yang telah disetujui. Bila perusahaan ingin menyesuaikan kontrak sebelum waktunya maka akan dapat mempunyai dampak yang tidak menguntungkan karena:

Negosiasi kontrak memerlukan biaya dan waktu baik bagi pengusaha maupun serikat
pekerja.

Kegagalan dalam bernegosiasi dapat berdampak yang luas seperti terjadinya aksi
mogok para pekerja.


Bukan suatu strategi yang optimum bagi perusahaan untuk mengurangi upah, karena bila berlaku demikian akan banyak pekerja yang pindah ke perusahaan lain yang tidak menurunkan tingkat upahnya.

Ini berarti bahwa dengan adanya serikat pekerja yang kuat, tingkat upah tidak dapat dengan mudah berubah seperti pada pasar persaingan sempurna. Sehingga terjadi kekakuan upah dan terutama upah akan sukar sekali untuk menurun apabila terjadi resesi. Kekakuan ini yang menyebabkan timbul masalah pengangguran yang tidak suka rela.
3.1.2. Model Upah Efisien

Teori ini dikemukakan oleh Gordon (1990), Yellen (1984), Katz (1986, 1988), Harley (1990) dan Weiss (1991). Solow (1979) memberi dasar pada model ini. Upah efisien akan sama dengan produk marginal yang dapat diturunkan berdasarkan syarat kondisi cukup untuk memaksimumkan keuntungan di suatu perusahaan. Menurut teori ini perusahaan cenderung untuk menetapkan upah yang lebih tinggi dari pada upah keseimbangan pasar persaingan sempurna. Ada empat alasan perusahaan untuk memberikan upah yang tinggi, yaitu :


Dengan upah yang lebih tinggi ini dimaksudkan untuk alat memaksimumkan disiplin pekerja dalam melaksanakan tugas. Upah yang tinggi akan membuat pekerja lebih giat bekerja dan meningkatkan produktivitasnya dan sumbangan kerjanya dapat meningkatkan produktivitas total perusahaan. Upah yang tinggi ini menyebabkan mereka takut kehilangan pekerjaan dan hal ini menyebabkan mereka bekerja dengan lebih giat.
Untuk menghindari biaya penggantian pekerja. Dengan sistem upah yang baik maka kemungkinan pekerja keluar dari perusahaan dapat diperkecil, sehingga dapat dihindari pengeluaran biaya untuk mencari pekerja baru. Biaya yang timbul akibat keluarnya pekerja dari perusahaan dapat berupa: (i) kehilangan produksi dari pekerja lama yang sedang mencari pekerjaan baru, (ii) biaya untuk merekrut pekerja baru, (ii) biaya untuk memberi pelatihan kepada pekerja baru, dan (iv) pekerja baru mempunyai produktivitas yang lebih rendah.


Sebagai alat untuk memilih tenaga kerja yang berkualitas tinggi. Tenaga kerja yang tersedia bersifat heterogen, yang berbeda baik dari segi kepandaian, kerajinan, ketekunan maupun sikap dalam menjalankan tugas. Apabila perusahaan menawarkan upah yang lebih tinggi, maka lebih banyak pekerja yang berkualitas akan melamar pekerjaan tersebut. Dengan demikian melalui upah yang lebih tinggi, perusahaan dapat memperoleh pekerja yang mempunyai mutu yang lebih baik.


Upah yang tinggi merupakan imbalan yang seimbang bagi pekerja yang mempunyai prestasi yang baik. Setiap pekerja mengukur penghargaan perusahaan terhadap dirinya berdasarkan tingkat upah yang dibayarkan, begitu juga perusahaan akan memberikan imbalan bagi pekerja yang giat melaksanakan kerja dengan sebaik mungkin sebagai tanda terima kasih. Ini merupakan imbalan yang seimbang baik bagi pekerja maupun bagi perusahaan.
3.1.3. Model Orang Dalam – Orang Luar

Model ini dikembangkan pada tahun 1980an oleh Lindbeck dan Snower. Pada dasarnya teori ini menganggap pasar barang dan pasar tenaga kerja bersift persaingan tidak sempurna. Bila dalam pasar tenaga kerja terdapat serikat pekerja dan jumlah perusahaan relatif terbatas, maka tingkat upah ditentukan dari perjanjian kontrak kolektif antara serikat pekerja dengan majikan. Dalam pasar yang demikian tenaga kerja dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (i) yang menjadi anggota serikat buruh atau disebut orang dalam (insider) dan (ii) yang tidak menjadi anggota serikat buruh atau disebut orang luat (outsider). Penentuan upah dengan kontrak tersebut cenderung lebih tinggi dari pada bila terjadi di pasar persaingan sempurna. Apabila terjadi resesi, perusahaan akan mengurangi pekrjanya dan sebagian orang dalam menganggur dan menjadi orang luar. Bila kegiatan perekonomian pulih kembali, orang dalam akan menuntut kenaikan upah, sedangkan orang luar akanmenghadapi kesulitan untuk memperoleh pekerjaan. Hal ini disebabkan berbagai halangan
dari serikat pekerja untuk menghalangi orang luar diambil kerja oleh perusahaan.
3.2. Penyebab Kekakuan Harga
3.2.1. Biaya Menu

Teori ini dikemukan oleh Akerlof dan Yallen (1985), Mankiw (1985), Parkin (1986) dan terakhir oleh Rotemberg (1987) dan sering disingkat menjadi Pandangan PAYM. Istilah biaya menu dimaksudkan sebagai biaya yang akan dibayar suatu restoran apabila membuat perubahan harga makanan yang dijualnya. Untuk menaikkan harga misalnya, perlu membuat daftar harga baru dan ini memerlukan biaya. Di berbagai perusahaan perubahan harga akan menimbulkan biaya yang lebih besar dari pada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh. Biaya untuk membuat daftar harga yang baru tersebut dapar berupa: pencetakan, pengedaran, pemberitahuan kepada agen, kekecewaan pelanggan bila mengetahui adanya perubahan harga. Berbagai bentuk biaya ini belum tentu dapat ditutupi oleh keuntungan tambahan yang diperoleh. Oleh karena itu perusahaan lebih suka mempertahankan harga yang lama, walaupun hal ini mengurangi jumlah barang yang dijual.

Pasar barang pada umumnya juga bukan merupakan pasar persaingan sempurna, sehingga kurva permintaan yang dihadapi menurun ke kanan yang berarti bila ingin menambah penjualan maka harus mengurangi harga. Ini dapat mengurangi tambahan keuntungan yang diperoleh karena bersifat diminishing return. Apabila tambahan keuntungan tidak dapat melebihan biaya menu, perusahaan akan lebih suka mengurangi produksi dan mempertahankan harga semula.
3.2.2. HargaMark-Up

Dalam pasar persaingan tidak sempurna, penentuan harga pada umumnya didasarkan pada penentuan nilaimark-up atau tambahan harga di atas biaya per unit utuk memproduksi barang tersebut. Cara penentuan harga secara sederhana adalah menggunakan rumus berikut:
P = M + AC

dengan P adalah harga barang, M tingkatmark-up dan AC adalah biaya rata-rata per unit untuk memproduksi barang tersebut. Perusahaan akan cenderung untuk menaikkan harga sesuai denganmark-up yang telah ditetapkan apabila biaya produksi rata-rata meningkat, tetapi akan mempertahankan harga yang lama dan menambahmark-up apabila biaya produksi rata-rata menurun. Dengan kecenderungan ini berarti harga barang industri biasanya sukar untuk diturunkan walaupun dalam keadaan resesi. Dengan kata lain harga barang di pasar persaingan tidak sempurna bersifat kaku ke bawah.
3.2.3. Ekternalitas Pasar yang Tebal

Dalam dunia nyata penjual dan pembeli tidak dapat bertemu tanpa adanya biaya mencari (search cost). Konsumen harus meluangkan waktu untuk mencari barang yang dibutuhkan dan perusahaan membuat iklan untuk menarik pembeli. Pada pasar yang tebal yaitu pada pasar dengan aktivitas ekonomi yang tinggi, akan terlihat bahwa biaya mencari akan berkurang dibandingkan pada pasar yang tipis yang aktivitas perdagangannya rendah. Sehingga ada kecenderungan orang akan lebih suka mencari pasar yang tebal karena mempunyai banyak pilihan. Jika ekternalitas pasar yang tebal ini membantu menggeser biaya marginal ke atas pada saat resesi dan ke bawah pada saat ekonomi membaik maka hal ini akan memberi kontribusi pada terjadinya kekakuan harga.
3.2.4. Pasar Konsumen

Sebagaian besar barang dijual melalui proses belanja yang membutuhkan biaya mencari. Pembeli selalu mempunyai informasi yang terbatas tentang harga yang termurah di pasar tersebut. Karena biaya mencari terkait dengan proses belanja maka penjual mempunyai kekuatan monopoli meskipun banyak perusahaan yang menjual barang yang sama di pasar tersebut. Karena banyaknya konsumen membeli barang yang sama berulang- ulang sehingga ada kecenderungan bagi penjual untuk menghalangi pembeli mencari ke tempat lain. Cara yang digunakan penjual tersebut adalah dengan menghindari terjadinya perubahan harga. Bila harga naik maka konsumen akan bereaksi pindah ke penjual lain dan jika harga turun konsumen akan lambat reaksinya, karena perlu waktu untuk menyebarkan informasi ini ke pembeli di perusahaan lain. Perbedaan reaksi perubahan harga ini dapat menyebabkan terjadinya kekakuan harga relatif.

3.2.5. Kekakuan Harga dan Tabel Input-Output

Saat ini satu perusahaan berhubungan dengan ratusan perusahaan lain melalui tabel input-output yang sangat kompleks. Bila ada kejutan permintaan maka tidak ada jaminan bahwa keuntungan marginal akan bergerak bersama-sama dengan biaya marginal. Jika terjadi penurunan permintaan agregat, dan satu perusahaan individu menurunkan jumlah produksinya maka belum tentu biaya marginalnya akan menurun secara proporsional. Setiap perusahaan akan mempunyai kondisi permintaan agregat yang berbeda, sehingga menurunkan harga pada kondisi tersebut bisa menyebabkan bangkrut.
3.2.6. Pasar Modal yang Tidak Sempurna

Keterbatasan suatu perusahaan untuk mendapat pendanaan dari luar adalah adanya informasi yang asimetri antara peminjam dan pemilik modal. Peminjam lebih tahu tentang investasi yang akan dilakukan dari pada pemilik modal. Sehingga biaya untuk mendapatkan pendanaan dari luar akan lebih mahal dari pada pendanaan sendiri. Selama ekonomi baik, perusahaan akan mendapat untung banyak dan mampu mendanai sendiri proyeknya. Selama resesi biaya untuk memperoleh dana meningkat karena adanya kebutuhan untuk memperoleh modal dari luar. Sehingga terlihat bahwa biaya untuk memperoleh modal bersifat counter cyclical. Uraian ini belum secara langsung menerangkan adanya kekakuan harga, tetapi lebih ditekankan pada adanya pengaruh pasar modal terhadap terjadinya siklus bisnis.
3.2.7. Harga Sebagai Indikator Kualitas

Perusahaan cenderung tidak mau menurunkan harga bila ada penurunan permintaan karena adanya anggapan bahwa harga merupakan indikator dari kualitas barang. dengan menurunkan harga ada resiko konsumen akan menganggap bahwa kualitas barang tersebut sudah diturunkan.
4. Kritik Terhadap Keynesian Baru
Beberapa kritik tentang Keynesian baru diantaranya adalah:

Pengembangan teori Keynesian Baru masih bias dan kurang memperhatikan studi
empirisnya. Karena banyaknya ide dari para ekonom Keynesian Baru maka perlu 9
kiranya untuk mengumpulkan semua ide tersebut dalam satu kesatuan struktur ekonomi
makro dan kemudian diuji secara empiris.


Banyak teori yang sangat bagus tetapi sering tidak berhubungan satu sama lainnya sehingga sulit untuk mengumpulkan menjadi satu kesatuan dan mengetesnya dalam kerangka ekonomi makro Keynesian Baru.


Kritik berikutnya berkaitan dengan biaya menu. Dengan penyesuaian harga dengan mengganti menu yang kemungkian hanya kecil biayanya dapat menyebabkan kontraksi yang besar dalam pendapatan nasional maupun pasar tenaga kerja.


Landasan mikro ekonomi dengan menggunakan asumsi kekakuan harga dan upah kurang begitu kuat. Seperti dijelaskan oleh Tobin bahwa tidak perlu landasan mikro ekonomi dengan kekakuan harga untuk membangun ekonomi makro Keynesian.


Keynesian Baru tidak harus menerima hipotesis ekspektasi rasional. Tetapi karena sampai saat ini belum ada ide ataupun teori yang lebih baik untuk menjelaskan perilaku pelaku ekonomi maka ide ekspektasi rasional tetap diterima dalam Keynesian Baru.


Masih menggunakan model IS-LM untuk menjelaskan permintaan agregat. Dengan menggunakan IS-LM maka akan menghilangkan adanya ekspektasi, dan berarti juga menghilangkan kunci untuk menentukan permintaan agregat tersebut.
5. Penutup

Menurut Fisher, Phelps dan Taylor, kesimpulan dari pemikiran Klasik Baru bahwa kebijakan pemerintah dalam mengelola permintaan tidak efektif bukan berdasarkan asumsi ekspektasi rasional, tetapi hanya dari asumsi keseimbangan pasar secara serentak. Dalam Keynesian Baru, model dengan asumsi adanya kekakuan harga, uang tidak netral, dan kebijakan pemerintah yang efektif maka paling tidak secara prinsip model Keynesian Baru dapat dibangun. Fleksibilitas harga yang besar seperti asumsi Klasik akan menyebabkan persoalan karena berpengaruh pada fluktuasi perekonomian.

Keynesian Baru lebih mengutamakan upaya untuk menanggulangi kejutan dari pada mencari penyebabnya. Pengalaman menunjukkan bahwa perekonomian dapat terganggu baik dari sisi permintaan maupun sisi penawaran. Dalam model Keynesian Baru, fluktuasi adalah tidak dapat diprediksi, tetapi tidak menganjurkan melakukan kebijakan
fine tunning untuk menstabilkan fluktuasi tersebut. Beberapa ekonom Keynesian Baru
menerima kritik dari Monetaris, meskipun demikian kebanyakan berpendapat bahwa peran pemerintah tetap dibutuhkan khususnya bila terjadi kegagalan pasar, misalnya terjadi depresi. Kebijakan intervensi adalah perlu karena kejutan yang besar dapat bersifat menetap (persitent) dan bila menunggu pemulihan secara mekanisme pasar akan memerlukan waktu yang sangat lama.

BAB 9 Aliran Sejarah

ALIRAN SEJARAH (HISTORIS)

Dengan berhasilnya tokoh-tokoh neo-klasik dalam mementahkan serangan pemikiran-pemikiran sosialis/marxis, maka bendera system liberal/kapitalisme kembali berkibar dan pada waktu bersamaan, di Jerman perkembangan suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut Aliran Sejarah(his tor is m ).

Pola pemikiran aliran sejarah didasarkan pada prespektif sejarah. Kerangka dasar teoritisnya berikut pola pendekatan yang digunakan oleh aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi sangat berbeda dan terpisah dari aliran utama(mainstream) yang berawal dari kaum klasik. nama aliran sejarah diinspirasikan oleh keberhasilan metode sejarah dalam bidang- bidang hukum dan bahasa. Dari beberapa pakar Jerman sendiri ada yang menamakan alian sejarah sebagai aliran “etis”, untuk menunjukan ketidak senangan mereka pada pahamhidonis m e klasik.
A.
SERANGAN TERHADAP METODE KLASIK

Pemikiran pemikiran klasik secara eksplisit mengakui bahwa manusia berdasarkan hakikatnya bersifat serakah (paham hidonisme). Paham ini kemudian dikembangkan menjadi pahamutilitarian isme.

Pendekatan- pendekatan tersebut menurut para pemikir aliran sejarah dinilai terlalu sempit. Menurut doktrin aliran sejarah, motif orang untuk bertindak tidak hanya didasarkan pada motif laba dan kepentingan pribadi, tetapi juga didorong etika dan implus-implus lainnya.

Pandangan kaum klasik perekonomian diserahkan kepada kekuatan pasar, dimana setiap orang diberi kebebasan berbuat demi kepentingan masing-masing. Dan akhirnya melalui apa yang disebut invisible hand, akan tercipta suatu harmoni secara keseluruhan. Pemikiran seperti ini juga dikecam oleh pakar-pakar sejarah, sebab dinilai terlalu mekanistis, dan menghendaki agar hal ini diganti dengan dasar pemikir yang lebih etis.
Pada intinya pemikir aliran sejarah menolak argumentasi pemikir pemikir klasik bahwa ada undang-undang alam tentang kehidupan ekonomi. Bagi mereka masayarakat harus di ganti sebagai satu kesatuan organisme dimana interaksi sosoial berkait dan berhubungan antar individu. Pemikir- pemikir aliran sejarah menghendaki agar kegiatan masayarakat dilandasi pada suatu system yang menyeluruh, yang mencakup semua organisme dalam kehidupan bermasayarakat sebagai suatu keseluruhan. Penganut aliran sejarah yang tidak percaya pada mekanisme pasar bebas klasik pada umumnya sepakat untuk meminta campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Investasi pemerintah diharapkan mampu membawa proseos ekonomi pada tujuan-tujuan sosial dan ekonomi yang diinginkan bersama dan tanpa campur tangan pemerintah dalam perekonomian tidak akan ada jaminan keadailan sosial.

Bagi pemikir-pemikir sejarah, fenomena-fenomena ekonomi merupakan produk perkembangan masayarakat secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan sejarah, karena itu semua pemikiran, teori, dan kesimpulan ekonomi harus di landaskan pada empiris sejarah. Pemikir-pemikir aliran sejarah tidak setuju dengan anggapan kaum klasik dan neo-klasik bahwa prinsip-prinsip ekonomi berlaku secara universal.

Pemikir-pemikir aliran sejarah dengan gencar menyerang metode pendekatan deduktif yang digunakan kaum klasik. Dengan pendekatan deduktif analisis ekonomi bertitik tolak dari pengamatan secara umum. Kemudian dari pengamatan secara umum itu diambil kesimpulan secara khusus (reasoning from the general to the particular). Bagi pakar aliran sejarah metode deduksi ini dinilai terlalu abstrak dan terlalu teoritis, dimana dari beberapa postulat kemudian mang-claim bahwa pemikiran-pemikiran mereka belaku umum(universal). Menurut kau sejarah metode deduksi ini sering tidak sesuai dengan realitas, dan karenanya sering membawa kita kedalam kesimpulan yang sering keliru. Untuk mengatasi kelemahan metode klasik tersebut maka pemikir-pemikir aliran sejarah menawarkan metode induktif-historis.

Pola pendekatan induksi empiris berpangkal tolak dari pengamatan dan pengkajian yang bersifat khusus, dan dari sisi ini diambil suatu kesimpulan umum (reasoning from the particular to the general). Dengan metode induksi empiris maka hukum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori ekonomi hanya berlaku suatu tempat pada waktu-waktu tertentu, sebab hukum, dalil maupun teori ekonomi sangat tergantung pada kondisi dan lingkungan setempat.
B.
TOKOH-TOKOH ALIRAN SEJARAH
Tokoh-tokoh aliran sejarah sangatlah banyak, namun yang akan
dibahas kali ini yang dianggap paling penting saja, diantaranya yaitu :
1. Friedrich List (1789-1846)

Friedrich List lahir dan memperoleh pendidikan di Jerman. Ia pernah mengajar di Negara tersebut, tetapi idenya memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat. Salah satu buku list yang terkenal adalah:Das
Nationale System der Politischen Oekonomie, der Internationale Handel,
die Handels Politik und der Deutche ollverein, atau dalam bahasa
Inggrisnya: The National System of Political Economy, International
Trade, Trade Policy and the German Customs Union (1841). Dalam buku-
buku tersebut List menyerang pakar-pakar klasik yang disebutnya
“kosmopolitan” sebab mengabaikan peran pemerintah.

Lebih lanjut List mengatakan bahwa kita biasa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu masyarakat dari data sejarah. Dari cara mereka berproduksi maka setiap kelompok masyarakat pada umumnya melewati tahap-tahap sejarah sebagai berikut:

a.) Tahap berburu dan menangkap ikan, atau tahapbarbarian, yang berciri masayarakat primitif sebab kebutuhan dari apa yang disediakan oleh alam,
b.) Zaman mengembala ataupastoral, yang mulai berternak tapi masih
nomaden atau tidak menetap,
c.) Zamanagr ar is, dimana masyarakat mulai menetap dan bertani secara
subsisten,
d.) Zaman bertani, menghasilkan industri manifaktur sederhana dan mulai
melakukan perdagangan lokal, dan
e.) Masyarakat bertani, manufaktur lebih maju dan telah melakukan
perdaganagan internasional.

Menurut List, system perdagangan bebas yang dianjurkan kaum klasia hanya cocok bagi negara-negara yang sudah berada pada tahap ke lima (waktu itu misalnya Inggris), tapi system perdagangan bebas jelas tidak cocok untuk keadaan Jerman waktu itu, yang keadaan industrialisasinya agak tertinggal dengan keadaan industrialisasi di negeri Inggris.Untuk memajukan perekonomian Jerman, List menyarankan agar

pemerintah menyusun berbagai kegatan ekonomi sebagai bagian dari kegiatan produksi dan kemampuan nasional. Dua sektor utama yang sangat menentukan perekonomian nasaional adalah sektor pertanian dan industri. Menurut List sektor pertanian diperlukan untuk menyediakan bahan pangan masyarakat, namun sektor ini tidak dapat membawa perekonomian lebih maju. Lebih tegasnya List berpendapat bahwa negara harus juga memajukan perekonomian melalui sektor industri, dan industrialisasi lah yang merupakan langkah awal membawa perekonomian lebih maju. Namun industrialisasi tidak hanya bertujuan untuk memajukan sektor industri, tetapi lebih jauh juga membawa perbaikan pada sektor pertanaian serta perkembangan dan kemajuan dibidang-bidang lainnya, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat luas.
Dari uraian di atas jelas bahwa List lebih banyak mencurahkan perhatian pada permasalahan ekonomi, terutama bagaimana melindungi industrialisasi Jerman yang waktu itu tertinggal dari industrialisasi Inggris.
2. Bruno Hildebrand (1812-1878)

Hildebrand aktif dalam berbagai penelitian dan penulisan karya karya ilmiah. Dalam melakukan penelaan dan penelitian-penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya mempelajari sejarah, maksudnya penelitian ekonomi harus didukung oleh data statistik empiris yang dikumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi.

Hildebrand juga menekankan pentingnya evolusi dalam perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat dari cara tiap kelompok masyarakat dalam melakukan tukar-menukar dan berdagang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas tingkatan- tingkatan sebagai berikut:

a.) Tukar-menukar secara in-natural atau barter,
b.) Tukar menukar dengan perantara uang,
c.) Tukar menukar dengan menggunakan kredit.

Penelitian Hildebrand diatas dianggap cukup baik dalam bidang sosiologi dan kurang bermanfaat dalam bidang ekonomi. Yang mana kelemahannya yaitu beberapa penelitan berdasarkan pada monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah ekonomi, tetapi karyanya tersebut tidak ditujukan pada acuan yang padu. Oleh sebab itu karya-karya penelitan sejarah Hildebrand tersebut dinilai tidak berarti dalam perkembangan ilmu ekonomi.
3. Gustav von Schmoler (1839-1917)

Schmoler terkenal karena terlibat dalam perdebatan yang sangat sengit dan pakar-pakar klasik, terutama dengan Carl Menger, tentang metodologi perkembangan ilmu ekonomi. ia dianggap sebagai pemikir sejarah yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasi
ditukar dengan metode induktif-empiris. Pandangan Schmoler agak berbeda dengan pandangan tokoh-tokoh aliran sejarah lainnya, yang mana tokoh-tokoh sejarah yang lainnya menghendaki berbagai kebijakan di dalam bidang ekonomi, Schmoler menghendaki agar kebijaksanaannya menyangkut politik sosial, dan lebih jauh dari itu, juga meningkatkan kesejahteraan kaum buruh.

Untuk mencapai tujuannya Schmoler dan rekan-rekannya mendirikan sebuah forum untuk menghimpun pemikiran-pemikiran dalam menghadapi berbagi masalah ekonomi dan sosial, dan hasil pertemuan serta kesimpulan disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan. Salah satu berhasilnya pertemuan-pertemuan yang di sampaikan kepada pemerintah dengan dibentuknya undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang diberikan kepada kaum buruh tersebut yang sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan dianggap sangat maju untuk zaman bagi dirinya, sebab dinegara-negara Eropa pada umumnya belum ada perundang-undangan perlindungan kaum buruh seperti yang di Jerman tersebut.
4. Werner Sombart (1863-1941)

Penelitan Sombart yang sering dikutip oleh orang adalah penelitannya tentang tahap-tahap perkembangan kapitalisme. Sombart mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan masyarakat. Dalam karyanya:Der
Moderne Kapitalismus (1902), Werner Sombart lebih lanjut mengatakan
bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis dapat dibedakan atas beberapa
tingkatan, yaitu:
a.) Tingkat pra-kapitalisme

Pada tingkat pra-kapitalisme kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, struktur sosial masih berat kearah pertanian, kebutuhan manusia masih rendah, uang belum dikenal, motif laba
maksimum masih belum nampak, dan produk seluruhnya lebih
ditunjukan untuk diri sendiri.
b.) Tingkat kapitalisme menengah

Pada tingkat ini walaupun kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, tetapi mulai memperlihatkan ciri-ciri individualisme, struktur pertanian industri mulai berimbang, masyarakat mulai mengenal uang, motif laba maksimum mulai nampak, dan produksi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi ditunjukan juga untuk pasar.
c.) Tingkat kapitalisme tinggi

Pada tingkat ini disebutkan tingkat kapitalisme tinggi, ciri masyarakat komunal hilang, paham individualisme mulai menonjol, struktur ekonomi semakin berat ke industri dan perkotaan, peran uang semakin menonjol, motif laba maksimum makin kelihatan, dan sebagian produksi dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
d.) Tingkat kapitalisme akhir

Tingkat ini ditunjukan oleh ciri-ciri dimana sikap individualisme lebih tinggi, tetapi kepentingan masyarakat tidak diabaikan, industri mulai ke padat modal, disamping uang kartal juga mulai di kenal uang giral, motif laba maksimum lebih tinggi, tetapi juga dipertimbangkan penggunaan laba untuk kepentingan masyarakat, dan produksi untuk pasar.
5. Max Weber (1864-1920)

Max Weber adalah ahli sosiologi dalam arti luas dimana ilmu ekonomi dan sejarah ekonomi oleh Weber juga dimasukan sebagai ilmu sosiologi. Dalam bukunya yang cukup terkenal, yaitu The Protestant Ethic
and the Spirit of Capitalism (1958) ia menjelaskan ada pengaruhnya ajaran
agama Protestan terhadap prilaku ekonomi.
Perilaku ekonomi kapitalis, kata Weber, bertolak dari harapan akan keuntungan yang akan diperoleh dengan m,empergunakan kesempatan bagi tukar menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan keuntungan secara damai. Hasil pengamatan Weber menunjukan bahwa golongan penganut agama Protestan, terutama kaum Calvinis menduduki tempat teratas. Menurut orang Calvinis keselamatan hanya diberikan pada orang-orang terpilih, hal inilah yang mendorong orang bekerja keras agar masuk menjadi golongan orang terpilih tersebut. Dalam pemikiran teologis inilah semangat kapitalisme yang bersandar pada cita, ketekunan, hemat, rasional, berperhitungan, dan sanggup menahan diri, menemukan pasangannya.

Tidak semua orang menerima tesis Weber, diantaranya yang menentang, yaitu Bryan S Turner, R.H.Tawney, Kurt Samuelson, Robert N. Bellah, Andrew Greeley, dan tokoh-tokoh lainnya yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan ekonomi, misalnya penelitian tentang masyarakat islam dan penganut-penganut agama Tokugawa di Jepang. Kritik-kritik tersebut antara lain dapat dibaca dalam buku yang diedit Taufik Abdullah: Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi (1979).
6. Henry Charles Carey (1793-1879)

Henry Carey adalah seorang pemimpin gerakan proteksionis dari Amerika Serikat. Dalam karyanya: Principles of Social Science, Carey menekankan perlunya diversifikasi industri untuk menciptakan lapangan pekerjaan lebih luas. Menurutnya suatu negara yang hanya mengandalkan pembangunan pada ekspor produk-produk pertanian dinilainya sebagai tindakan yang bodoh dan merugikan.

Pendukung-pendukung aliran sejarah yang lain dari Amerika Serikat adalah Simon Nelson Patten dan Daniel Reymond. Nelson Patten (1852-1992) mengajukan argumen-argumen yang menyokong proteksi sebagaimana yang dikemukakan oleh Carey. Sedangakan Daniel Reymond
(1786-1849) adalah seorang ahli hukum yang kemudian tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi. Daniel Raymond merupakan ekonom politik penting pertama muncul di Dia menulis Thoughts on Political
Economy (1820) dan The Elements of Political Economy(1823).

Daniel Reymond berteori bahwa “kekayaan menciptakan tenaga kerja,” yang mungkin telah perbaikan berdasarkan pemikiran Adam Smith dari Eropa. Daniel Raymond berpikir bahwa ekonomi Inggris sebenarnya perekonomian berpangkat lebih tinggi anggota masyarakat, dan bukan ekonomi seluruh bangsa. Ia berpendapat bahwa kekayaan bukanlah suatu agregasi nilai tukar, seperti Adam Smith telah mengandung itu. Daniel Raymond berpendapat bahwa kekayaan adalah kemampuan atau kesempatan untuk mendapatkan keperluan dan kemudahan hidup oleh tenaga kerja.
Pada tahun 1845, ia menulis sebuah buku judul “The Elements of
Constitutional Law” yang mencakup definisi dasar sebuah pemerintahan,

sebuah negara berdaulat, sebuah konfederasi dan sebuah konstitusi. Sementara konsep-konsep ini telah berevolusi, banyak teori-teori dasar yang masih memiliki relevansi yang diuraikan dalam analisis politik modern. Tulisannya mempengaruhi perkembangan politik di Amerika Serikat.

Jika di perhatikan, dapat dikatakan bahwa doktrin aliran sejarah kurang jelas. Lebih tegas mereka tidak mengembangkan suatu “system” melainkan lebih merupakan reaksi terhadap pemikiran-pemikiran klasik dan neo-klasik. Pemikir sejarah lebih banyak hanya mengkritik metode deduksi klasik, tetapi tidak melihat kelemahan dari metode induksi empiris mereka sendiri.Yang mana kelemahan utama induksi ialah sulitnya mencapai suatu kesimpulan yang padu tentang perekonomian masyarkat.

Keuntungan lain yang biasa dipetik dari serangan pemikiran-pemikiran aliran sejarah terhadap kaum klasik ialah dalam pengembangan penelitian metode ekonomi. Oleh Schumpeter, perdebatan tentang metode induksi dan deduksi ini dinilai sebagai penghambur-penghambur energi saja. Tetapi tentu tidak semua orang berpendapat dengan Schumpeter, sebab sebagaimana yang terbukti kemudian dari perdebatan ini lahir suatu kesadaran bagi pemikir-pemikir ekonomi di kemudian hari, bahwa dalam melakukan penelitian ekonomi sebaiknya di gunaka metode deduksi (reasoning from the general to the particular) dan induksi(reasoning
from the particular to the general) secara hilir mudik, yang kemudian dikenal
dengan metode reflective thinking
Untuk mengembangkan industri dosmetik, List menganjurkan adanya suatu lembaga negara yang akan melindungi industri dalam negara melalui pajak impor, dan pemerintah secara intervensi untuk menyeimbangkan pertanian, industri dan perdagangan.

BAB 15 Aliran Ratex

I. PENDAHULUAN
Ekonomi berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan manusia diperhadapkan dengan kenyataan “keterbatasan” sumberdaya untuk memenuhinya. Ekonomi sendiri hadir untuk menjawab sedikitnya tiga pertanyaan. Pertama, apa yang harus diproduksi dan dalam jumlah berapa (What). Kedua, Bagaimana sumber-sumber ekonomi, faktor-faktor produksi, yang tersedia dipergunakan untuk memproduksi barang-barang tersebut (How). Ketiga, untuk siapa barang-barang tersebut diproduksi, atau bagaimana barang-barang tersebut dibagikan di antara warga masyarakat (For Whom).
Dalam tata hubungan ekonomi dikenal istilah produsen dan konsumen. Rasionalitas yang dibangun dalam tata hubungan ekonomi adalah, bahwa konsumen cenderung memaksimalkan kebutuhannya (utilitas) dengan kendala pendapatan (income). Disisi lain, produsen cenderung memaksimalkan keuntungannya (profit) dengan kendala faktor input. Hubungan antara kepentingan-kepentingan produsen dan konsumen secara “individual”, dibahas dalam mikroekonomi.
Memang secara keilmuan dibedakan antara fenomena mikroekonomi dan makrekonomi (agregat). Namun bukan berarti bahwa saat kita membicarakan makroekonomi dapat mengabaikan eksistensi dari mirkro ekonomi. Dalam skala agregat, fenomena mikroekonomi tersebut tetap relevan untuk dibicarakan, karena makroekonomi juga dipengaruhi oleh perilaku ekonomi individu-individu yang ada.
Para ekonom cenderung alergi terhadap situasi dan kondisi yang penuh dengan “ketidakpastian”. Kondisi ketidakpastian sering membuat instrumen-instrumen ekonomi yang telah dibangun tidak mampu bekerja dengan baik (The dead of economics). Oleh karena itu, ekonom senantiasa bekerja keras untuk mengembangkan berbagai “model” guna memprediksi kondisi masa depan dengan berpijak dari berbagai fenomena yang ada saat ini atau bahkan masa lampau.
Secara konvensional modeling “time series”, yaitu model yang dibangun atas fenomena runtun waktu, khususnya masa lampau dianut oleh banyak ahli ekonometrika. Namun dalam dunia yang berubah sangat cepat seperti sekarang ini, upaya-upaya prediksi yang dibuat oleh ekonom sering meleset. Hal ini menunjukkan bahwa para ekonom sebenarnya kurang mampu untuk membaca fenomena ekonomi yang ada dan menghubungkannya dengan kemungkinan-kemungkinan masa depan. Dengan demikian harapan atau ekspekatasi yang dibangun menjadi tidak tercapai.
Dalam makalah ini akan dikupas tentang “Ekspektasi Rasional”, yaitu suatu pandangan makroekonomi yang banyak dianut oleh kelompok ekonom dasa warsa terakhir ini, khususnya mereka yang sangat fanatik terhadap sistem pasar bebas dan secara ekstrim menolak campur tangan pemerintah dalam sistem ekonomi Disamping akan membahas tentang orbitasi Ekspektasi Rasional diantara aliran pemikiran Klasik, Keynesian dan Monetaris, di dalam makalah ini juga akan dibahas bagaimana mekanisme kerja Ekspektasi Rasional serta asumsi-asumsi dasarnya. Pada bagian akhir akan dibahas tentang Ekspektasi Rasional diperhadapkan dengan fenomena ekonomi Indonesia

Aliran Ekonomi RATEX
- Latar Belakang
Pada tahun 70an dan 80an kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi yang sesuai dengan ajaran Keynes telah gagal total dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi.
Kegagalan tersebut menimbulkan pemikiran ekonomi baru yang disebut aliran gelombang baru (New Wave). Aliran ini meninjau kembali premi-premi yang digunakan kubu Keynesian (orang-orang yang mengikuti ajaran Keynes) yaitu perlunya campur tangan pemerintah seperti penerapan kebijaksanaan dan pengaruh ekspektasi terhadap pola konsumsi masyarakat.





Pemikiran Rational Expectation (Ratex)
Penganut rational expectation (ratex) tidak lain adalah kelompok klasik baru (new-classical), karena asumsi ratex dijadikan oleh kaum tersebut sebagai landasan pokok seluruh analisis dan pemikirannya. John Muth merupakan pencetus pertama ide ratex dimana pada awal 1960-an ia mengemukan premis : ”ekspektasi tiap individu bersifat rasional bila ekspentasi tersebut identik dengan hasil prediksi model”. Premis ini mengandung pengertian bahwa apabila masyarakat mengetahui benar informasi tentang suatu peristiwa atau kebijakan maka mereka akan bereaksi dimana reakasi tersebut berciri rasional. Sebagai gambaran, jika masyarakat mengetahui bahwa jumlah uang beredar meningkat dan mereka menyadari bahwa dampaknya akan terasa di dalam peningkatan harga maka ekspektasi harga juga akan ikut meningkat.
Menurut penganut model ratex jika dan hanya jika masyarakat membuat kesalahan ekspektasi maka kebijakan pemerintah dapat memberi hasil, contohnya pada kebijakan peningkatan jumlah uang beredar berdampak pada peningkatan output. Walau demikian, paham klasik tentang kekuatan pasar nampaknya sangat kuat berakar juga pada penganut model ratex. Menurut pandangan penganut ratex jika kesalahan terjadi, intervensi pemerintah semacam contoh di atas tetap tidak diinginkan karena ia justru akan menghasilkan ketidakpastian yang lebih besar lagi. Berbeda dengan pandangan kaum monetaris dimana mereka masih memberi “ruang” untuk melihat berbagai dampak kebijakan pemerintah melalui perlakuan eksplisit terhadap faktor adaptive expectation, khususnya dalam jangka pendek.
Memang agak sulit untuk membayangkan suatu keadaan dimana individu dapat mengetahui semua informasi sehingga ekspektasinya menjadi rasional. Seperti tidak kurang sulitnya untuk membayangkan situasi dimana dalam jangka pendek suatu kebijakan seperti menaikkan jumlah uang beredar akan tidak mempunyai dampak sama sekali terhadap tingkat output. Menurut jawaban penganut ratex kesalahan ekspektasi karena kesulitan memperoleh informasi memang tak dapat dihindarkan meskipun yang bersangkutan sangat rasional dalam pengambilan keputusan. Dengan pengertian lain, menurut mereka untuk mempunyai ekspektasi rasional tidak harus selalu bebas dari membuat kesalahan ekspektasi.



- Pokok Pikiran
Menurut aliran Keynes pemerintah diperlukan untuk membawa perekonomian ke arah yang diinginkan karena perekonomian tidak dapat menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan yang disebabkan oleh karena kekakuan harga dan tingkat upah, informasi tidak sempurna, serta kebiasaan masyarakat yang menghambat mekanisme pasar.
Sedangkan para pakar RATEX (Rational Expectation) berpendapat bahwa tidak ada peluang kebijaksanaan fiskal maupun moneter untuk menstabilkan perekonomian. Menurut aliran RATEX, masalah-masalah/peristiwa ekonomi terjadi karena kesalahan dalam memperkirakan peristiwa ekonomi pada masa yang akan datang. Kesalahan tersebut tidak terjadi secara sistematis melainkan secara acak/random. RATEX juga mengkritik teori Keynes tentang pembentukan harga ekspetasi didasarkan pada perilaku masa lalu.
Menurut aliran RATEX, orang-orang/unit-unit ekonomi telah membuat perkiraan–perkiraan secara rasional, karena tingkah laku ekonomi masyarakat dipengaruhi perkiraan mereka, maka kegiatan memprediksi peristiwa ekonomi masa depan menjadi sia-sia.
Teori ekspektasi rasional (rational expectations) diajukan pertama kali oleh John F. Muth pada tahun 1961 pada tulisannya yang berjudul “Rational Expectations and the Theory of Price Movements”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Robert E. Lucas Jr. untuk memodelkan bagaimana agen ekonomi melakukan peramalan di masa yang akan datang.
Sukirno (2006) menjelaskan bahwa ada 2 asumsi yang menjadi dasar teori ekspektasi rasional (rational expectations):
• Pertama, teori ini menganggap bahwa semua pelaku kegiatan ekonomi bertindak secara rasional, mengetahui seluk beluk kegiatan ekonomi dan mempunyai informasi yang lengkap mengenai peristiwa-peristiwa dalam perekonomian. Keadaan yang berlaku di masa depan dapat diramalkan, selanjutnya dengan pemikiran rasional dapat menentukan reaksi terbaik terhadap perubahan yang diramalkan akan berlaku. Akibat dari asumsi ini, teori ekspektasi rasional mengembangkan analisis berdasarkan prinsip-prinsip yang terdapat dalam teori mikroekonomi yang juga bertitik tolak dari anggapan bahwa pembeli, produsen, dan pemilik faktor produksi bertindak secara rasional dalam menjalankan kegiatannya.
• Asumsi kedua adalah semua jenis pasar beroperasi secara efisien dan dapat dengan cepat membuat penyesuaian-penyesuaian ke arah perubahan yang berlaku. Asumsi kedua ini sesuai dengan pendapat ahli-ahli ekonomi klasik, dan merupakan salah satu alasan yang menyebabkan teori ini dinamakan new classical economics. Menurut asumsi kedua, tingkat harga dan tingkat upah dapat dengan mudah mengalami perubahan. Kekurangan penawaran barang akan menaikkan harga, dan kelebihan penawaran mengakibatkan harga turun. Buruh yang berkelebihan akan menurunkan upah, sebaliknya kekurangan buruh akan menaikkan upah mereka. Semua pasar bersifat persaingan sempurna, dan informasi yang lengkap akan diketahui oleh semua pelaku kegiatan ekonomi di berbagai pasar.
Golongan ekspektasi rasional melahirkan pemikiran mengenai hipotesis pasar efisien. Mankiw (2006) menjelaskan bahwa ada sebuah cara dalam memilih saham untuk portofolio, yaitu memilih secara acak. Alasan dari cara ini adalah hipotesis pasar yang efisien (efficient markets hypothesis). Asumsinya adalah semua saham sudah dinilai tepat sepanjang waktu karena keseimbangan penawaran dan permintaan mengatur harga pasar. Pasar saham dianggap mencerminkan semua informasi yang tersedia mengenai nilai sebuah aset. Harga-harga saham berubah ketika informasi berubah. Kalau ada berita baik mengenai prospek suatu perusahaan, nilai dan harga saham sama-sama naik. Tapi, pada saat kapan pun, harga pasar adalah perkiraan terbaik dari nilai perusahaan yang didasarkan atas semua informasi yang tersedia.
Samuelson dan Nordhaus menyatakan bahwa pandangan teori pasar efisien terlalu sederhana dan menyesatkan, sudah banyak bukti menunjukkan tidak semua pergerakan saham diakibatkan perubahan informasi. James Tobin, seorang professor Yale pemenang hadiah nobel mengkritik teori ini, argumennya pada bursa saham amerika tanggal 15 hingga 19 oktober 1987 terjadi perubahan harga sebanyak 30% padahal tidak ada faktor yang tampak. Teori pasar efisien bungkam terhadap kritik tobin.
Aliran Pemikiran Ekonomi Baru yang disebut aliran gelombang baru
(new wave)
 Pandangan aliran gelombang baru yg menganggap tdk ada hubungan khusus antara variabel output, kesempat-an kerja & inflasi. Karena tidak ada trade-offs diantara varibel tersebut. Pakar-pakar Ratex berpendapat bahwa tidak ada peluang kebijaksanaan fiskal maupun moneter untuk menstabilkan perekonomian.
 Bagi aliran ratex, deviasi dari keadaan kesempatan kerja penuh hanya terjadi karena adanya kesalahan dalam memperkirakan peristiwa-peristiwa ekonomi (seperti tingkat harga, upah dan inflasi) masa datang.
 Dalam perekonomian yang sudah stabil, pelaksanaan suatu kebijaksanaan ekonomi justru bisa mengganggu perekonomian itu sendiri.


Hipotesis Keynes tentang fungsi konsumsi
C= f(Y) ditolak,
Alasannya, dalam kenyataan pengeluaran konsumsi (C) tidak hanya ditentukan oleh pendapatan (Y) sekarang atau pendapatan masa lalu, melainkan juga dipengaruhi oleh perkiraan (ekspektasi) mereka dimasa yang akan datang.
Karena model-model yang dikembangkan didasarkan pada ekspektasi rasional, aliran gelombang baru ini disebut aliran ekspektasi asional atau rational expectation (ratex)
• Pakar-pakar ratex juga percaya bahwa dalam perekonomian yang selalu dalam posisi keseimbangan kebijaksanaan apapun dari pemerintah cenderung tidak memberika hasil yang efektif. Mereka percaya bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki suatu keadaan, sebab setiap orang sudah melakukan yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Pandangan ini kemudian dijadikan sebagai preposisi, yang dikenal dengan preposisi kebijaksanaan pemerintah yang tidak efektif (policy ineffective preposition).
• Karena pandangan aliran gelombang baru atau ratex ini mengingatkan orang akan kebijaksanaan klasik, aliran ini kemudian sering pula disebut aliran klasik baru atau new classical economics (ingat, bukan neo-klasik).

TOKOH-TOKOH RATEX
• Robert Lucas
• Thomas Sargeant
• Eil Wallace
• Robert Barro
• Leonard Rapping
• Edward Prescott
• Dvid Begg
• Steven Sheffrin
• John Muth

 Ide tentang ekspektasi rasional ini sudah dikembangkan oleh John Muth sejak tahun 1961. Premis utama yang dikemukakan Muth dalam tulisannya tersebut adalh, bahwa ekspektasi tiap orang bersifat rasional bila ekspektasi tersebut identik dengan prediksi model.
 Dalam pengembangan model-model ekonomi, pakar-pakar aliran ratex ini menggunakan beberapa preposisi, a.l: bahwa orang atau unit-unit ekonomi akan membuat perkiraan (ekspektasi) ; orang tidak menggunakan informasi yang ada padanya secara efisien ; oarang tidak membuat kesalahan-kesalahan secara sistematis dalam ekspektasi mereka; dan orang akan bereaksi secara rasional terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan demi kepentingan pribadi masing-masing.


Ratex telah berjasa mempertajam penggunaan dasar-dasar teori mikro dan model-model mekanisme pasar bebas ke dalam analisis makro, yg disebut pendekatan keseimbangan ekspektasi-ekspektasi rasional (rational expectations equilibrium approach) dalam teori
ekonomi makro. Pendekatan keseimbangan ekspektasi rasional dibangun dengan tujuan agar semua teori-teori makro didasarkan pada teori-teori mikro yang kokoh.




MEKANISME KERJA EKSPEKTASI RASIONAL
Menurut Michael Carter (1984), ekspektasi rasional adalah upaya meramal secara esensial masa depan variabel-variabel ekonomi untuk membuat kebijakan secara tepat. Dalam memprediksi, variabel-variabel yang relevan, namun penuh dengan ketidakpastian, harus diperhitungkan secara cermat.
Ekspektasi rasional pada mulanya diperkenalkan oleh John Muth pada tahun 1961 melalui paper klasiknya yang berjudul “Rational Expectations Hypothesis”. Namun demikian keberadaan ekspektasi rasional ini semakin berkembang dengan adanya studi oleh Lucas (1973) dan dua paper seri dari Barro (1977a,1978b).
A. ASUMSI DASAR
Asumsi dasar bagi bekerjanya model ekspektasi rasional ini adalah :
1. Ekspektasi ini didasarkan kepada informasi yang lengkap yang dimiliki oleh semua pelaku ekonomi, baik tiu konsumen, produsen (simetris). Informasi yang lengkap ini bukan hanya meliputi informasi masa lalu, atau yang baru dialami tetapi juga informasi tentang masa yang akan datang.
2. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, pelaku ekonomi akan melakukan tindakan yang rasional. Tindakan rasional yang dimaksudkan disini adalah : produsen cenderung untuk memaksimumkan profit dengan kondela faktor-faktor produksi, sedangkan konsumen cenderung memaksimalkan utility dengan kendala income. Pelaku ekonomi yang rasional akan senantiasa berpegang pada prinsip tersebut terutama dalam menghadapi berbagai perubahan yang timbul dari aspek makroekonomi, seperti inflasi dan pengangguran.
3. Pelaku-pelaku ekonomi mengetahui dengan baik implikasi-inplikasi dari berbagai kebijakan yang akan dijalankan oleh pemerintah. Pengetahuan seperti itu terutama didapat dari pengalaman-pengalaman di masa lalu.
Teori ekspektasi rasional menganggap bahwa pada umumnya masyarakat mengetahui dampak yang akan ditimbul sebagai akibat kebijakan-kebijakan pemerintah seperti melakukan anggaran belanja defisit dan dampaknya terhadap perekonomian. Kemampuan untuk memprediksi (to expect and to anticipate) dampak dari tindakan pemerintah seperti itu, memungkinkan pelaku-pelaku ekonomi melakukan tindakan untuk melindungi diri dari dampak buruk kebijakan pemerintah tersebut di masa depan.
Dalam kesempatan lain, Case dan Fair (1999) mengatakan bahwa hipotesis ekspektasi rasional mengasumsikan bahwa orang mengetahui tentang “model ekonomi secara benar”. Sebagai contoh model tentang inflasi. Variabel-variabel yang mempengaruhi terjadinya inflasi, diektahui secara pasti oleh semua pelaku ekonomi secara simetris. Apabila terjadi perubahan-perubahan terhadap parameter dari variabel-variabel tersebut, maka secara cepat para pelaku ekonomi dapat mengekspektasi perubahan inflasi.

KRITIK TERHADAP EKSPEKTASI RASIONAL
Sebagai suatu pendekatan baru dalam makroekonomi, ekspektasi rasional tidak lepas dari berbagai kritik, baik yang lunak maupun yang sangat keras. Case mengatakan bahwa pertanyaan kunci yang berkenaan dengan ekspektasi rasional ini adalah : Seberapa realistisnya asumsi yang dibangun dari model ekspektasi rasional ? Jika asumsi tersebut memprediksi bagaimana ekspektasi tersebut dibentuk, maka perlu dipertanyakan apabila terjadi kesalahan ekspektasi yang justru menimbulkan ketidakseimbangan. Dari sudut makroekonomi, argumen-argumen yang mendukung ekspektasi rasional cenderung persuasif.
Ekspektasi rasional terlalu menuntut rumah tangga dan perusahaan mengetahui berbagai informasi terlalu banyak. Tidak realistis untuk menganggap unit pengambilan keputusan dasar untuk mengetahui informasi sebanyak yang dituntut. Orang harus mengetahui model yang benar (atau sekurang-kurangnya perkiraan yang baik tentang model yang benar).
Walaupun asumsi ekspektasi rasional itu tampaknya konsisten dengan dalil mikroekonomi tentang maksimalisasi utility dan maksimalisasi profit, asumsi ekspektasi rasional itu dinilai sangat ekstrim.
Michel Carter (1984) mengkritik sangat keras keberadaan ekspekatasi rasional ini. Ia mengatkan bahwa teori ekspektasi rasional sebagai “sangat tidak masuk akal”, karena dianggap tidak realistis. Kritik Carter ini berkaitan dengan empat hal pokok, yaitu : Individu yang rasional, argumentasi tentang pemerintah yang jujur, eksploitasi terhadap seluruh kesempatan untuk memperoleh profit, Hanya sebagian perusahaan membutuhkan rasionalitas tertentu, bukan teori yang kompeten.
1. Individu yang rasional
Newclassical sangat konsern untuk mencoba menjelaskan tentang perilaku individu didalam memaksimalkan utilitasnya. Bagaimana cara mereka untuk secara mandiri mencoba untuk mengetahui tentang variabel-varibel ekonomi yang dibutuhkan untuk memprediksi masa depan ? Jawabannya tentu saja tentu saja berdasarkan rasionalitas mereka. Namun perlu dipertanyakan lebih dalam lagi bagaimana caranya untuk mendapatkan jalan untuk menemukan informasi tersebut. Dalam hal ini akan terdapat ketidaksinkronan antara kenyataan adanya informasi yang lengkap dengan asumsi yang ada pada ekspektasi rasional.
2. Peran pemerintah
Pemerintah yang jujur dalam mengelola manajemen makroekonomi sangat sulit, terutama dalam menciptakan kapasitas penuh tenaga kerja. Sebagai contoh : keinginan pemerintah untuk menekan pengangguran. Yang pada kenyataannya pengangguran ini selalu ada dalam kisaran antara 4 – 7 %.
3. Eksploitasi kesempatan untuk memperoleh profit
Bila suatu perusahaan memiliki informasi untuk memperoleh kesempatan mendapatkan profil, maka ia cenderung untuk mengeksploitasi kesempatan tersebut semaksimal mungkin.

4. Sebagian perusahaan yang membutuhkan rasionalitas tertentu
Hal-hal yang menyebabkan berkurangnya kesempatan memperoleh profit sebagaimana tersebut diatas tersebut akan mereka reduksi, termasuk apabila itu menyangkut sharing informasi dengan pelaku ekonomio lainnya. Dengan demikian informasi yang lengkap hanya dimiliki oleh sedikit perusahaan.
5. Tidak ada teori yang kompeten
Pada akhirnya Carter mengatakan bahwa ekspektasi rasional sebenarnya tidak didukung oleh teori yang yang kompeten.
-Pro dan Kontra
Lucas menyebutkan bahwa perubahan-perubahan yang tidak terantisipasi saja yang akan mempengaruhi output. Jika terantisipasi maka output = nihil atau dengan kata lain kebijakan moneter tidak akan ampuh digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi output dan kesempatan kerja.
Pihak Pro
Thomas J.S dan Neil Wallace
Kebijakan moneter memang tidak efektif, baik jangka panjang maupun jangka pendek.
Pihak Kontra
F. Mishkin dan R. Gordon
Kebijakan moneter yang sistematis jelas memberi dampak terhadap output.
-Kesimpulan
Dari pendapat-pendapat di atas, memang telah mempengaruhi dunia. Namun, masih perlu penelitian lebih lanjut karena kebijakan moneter yang mempengaruhi output masih belum terbukti jelas dan bersifat fleksibel.
RATEX memberi pengaruh terhadap dunia karena ajaran Ratexlah yang mencetuskan ide bahwa perekonomian diserahkan kepada mekanisme pasar dan itu memberi pengaruh terhadap program-program ekonomi dunia.

BAB 13 Aliran Monetaris

POKOK-POKOK PIKIRAN ALIRAN MONETARIS

Ketidakberhasilan ajaran2 Keynes dlm memecahkan masalah2 yg dihadapi melahirkan suatu aliran baru yg disebut “aliran Monetaris” yg mengutamakan kebi-jaksanaan moneter dlm mengatasi kemelut ekonomi.
Istilah ini pertamakali digunakan oleh Karl Brunner untuk menggambarkan berbagai studi dibidang ekonomi moneter & kebijaksanaan moneter.
Penekanan pokok pandangan monetaris terletak pa-da stok uang. Menurut Friedman, perubahan dlm jum lah uang beredar sgt besar pengaruhnya terhadap      1. Tingkat inflasi dlm jangka panjang                          2. Perilaku GNP ril dlm jangka panjang         Friedman menyimpulkan secara umum laju pertum-buhan uang yg tinggi menyebabkan terjadinya booms & inflasi. Sementara itu, penurunan dlm laju pertum-buhan uang dapat menimbulkan resesi & kadang-kadang bahkan juga deflasi.

Aliran monetaris dalam perkembangannya sejak pertengahan dasawarsa 60 meliputi berbagai sub aliran yang beraneka ragam. Sejumlah sub aliran masing-masing memberikan penekanan yang berebeda terhadap peranan bidang moneter dalam perkembangan ekonomi. Tampaknya memang agak sulit untuk memberi suatu definisi yang agak baku mengenai ruang lingkup materi dan sifat monetarisme.
Monetarisme yang dikenal dewasa ini dengan berbagai wajahnya pada hakikatnya merupakan suatu reformasi (perumusan ulang) dalam wujud yang baru dari teori kuantitas tentang uang sebagaimana mula-mula dikemukakan oleh Irving Fisher pada abad XX, yang benih-benihnya sudah terkandung dalam gagasan Jean bodin dari zaman Pramerkantilis dia bad XXI. Sama halnya dengan mazhab Keynes dan Neo Keynes, golongan Monetaris juga berdasar dari kenyataan adanya ketidak seimbangan sebagai kecenderungan dalam perkembangan ekonomi. Aliran Monetaris sangat menarik untuk di bahas karena inti pokok pandangan golongan monetaris membahas tentang :
1. Sebab terjadinya perubahan pendapatan nasional
Sebab-sebab terjadinya perubahan pendapatan nasional menurut Friedman bersumber semata-mata pada tingkat permintaan uang, dimana volume permintaan uang ini tingkat pengeluaran yang akan dilakukan dalam masyarakat. Oleh sebab itu menurut Friedman, sebab yang paling penting adalah untuk menguasai volume uang dalam peredaran. Sebab jumlah uang itu yang mempengaruhi jumlah pengeluaran secara menyeluruh. Hal ini satu sama lain akan berdampak pada pertumbuhan dan kestabilan ekonomi.
Sementara itu juga diakui, monopoli dan oligopoli dalam persaingan. Akan tetapi adanya monopoli dan oligopoli tidak begitu besar bobot penagruhnya terhadap proses kegiatan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Selama jumlah pasok uang dapat dikuasai, akhirnya dalam perkembangan waktu tingkat harga dan keadaan ekonomi menjadi stabil dan maju.
2. Kebijaksanaan moneter
Menurut pemikiran Keynes, kebijaksanaan ekonomi yang harus dilakukan pemerintah adalah kebijaksanaan fiskal yang anti siklus. Golongan monetaris mengalihkan perhatian dari kebijaksanaan fiskal ke kebijaksanaan moneter. Upaya untuk menanggulangi goncangan-goncangan kegiatan ekonomi dilakukan dengan melakukan kebijaksanaan moneter dengan menguasai pasok/penawaran uang. Diakui dalam suatu masa transisi akan terjadi goncangan harga. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu harga itu akan memncerminkan gerak perkembangan yang ada sangkut pautnya dengan pengadaan jumlah uang. Selama pasok uang dapat dikuasai maka pada waktunya kestabilan harga juga akan terpelihara. Pasok uang harus dikuasai dalam arti tingkat-tingkat pertambahannya harus dikendalikan sesuai dengan bertambahnya kebutuhna dunia usaha.
3. Pasok uang harus mencerminkan kebutuhan dunia usaha
Pasok uang harus dikuasai dalam arti bahwa tingkat tambahannya harus dikendalikan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Golongan monetaris berpendapat bahwa selain di bidang moneter melalui pengelolaan pasok uang oleh otoritas moneter (Bank Sentral), pemerintah tidak boleh berintervensi secara aktif melalui kebijaksanaan ekonomi (kembali pada persainagn bebas).
Pengalaman empiris sejak pertengahan dasawarsa 70 sampai sekarang membuktikan bahwa pemikiran golongan monetaris pun tidak mampu untuk memecahkan masalah-masalah pokok dalam perkembangan ekonomi masyarakat. Kesulitan yang timbul dalam praktik untuk menilai dan memantau secara tepat factor yang mana dalam dunia moneter yang merupakan sebab bagi perubahan ekonomi (apakah pasok uang mempengaruhi kebutuhan usaha atau sebaliknya) atau hubungan sebab akibat itu yang justru berkebalikan. Ataukah kedua variable itu daalm perkembangannya harus dianggap co-incidence (kejadian yang kebetulan saja).
Di samping itu juga dialami kesukaran untuk memperoleh suatu konsensus yang dapat memberikan arti operasional kepada pengertian kunci: agregate supply of money. Artinya unsur-unsur mana saja secara operasional yang harus dicakup dalam pengertian agregate supply of money: uang tunai plus uang giral plus deposito berjangka, dan bagaimana dengan tabungan, premi badan-badan asuransi, kartu kredit dan yang lain-lain. Bebebrapa yang disebutkan terakhir akan sulit untuk mengamati sebagai pasok uang.
1. Ekspansi kredit domestik
Sehubungan dengan kesulitan untuk menjabarkan secara operasional tentang pasok uang, maka dalam perkembangannya pengertian pasok uang diganti dengan konsep yang lebih luas dan dianggap lebih maju. Tolok ukur yang kini digunakan untuk perubahan-perubahan pasok uang dikenal dengan istilah domestic credit expansion.
Kebijaksanaan moneter kini dipusatkan pada pengelolaan gerak gerik pasar uang dan pasar modal melalui pengendalian tingkat bunga, disertai alat moneter tradisional oleh Bank Sentral yang berupa open market operations.
2. Pengendalian tingkat bunga
Pada awal tahun 80, inflasi dapat diatasi. Tetapi ironisnya penurunan tingkat inflasi bukan melaui kebijaksanaan pengelolaan pasok uang tetapi melalui pengendalian tingkat bunga. Inflasi yang membumbung tinggi sudah mencapai dua digit. Dalam bagian pertama dasawarsa 80 an, bunga di negara-negara industri naik sampai pada tingkat yang belum pernah dialami dalam dasawarsa-dasawarsa sesudah Perang Dunia II. Dengan tingkat bunga tinggi, inflasi dapat ditanggulangi dan tingkat harga turun, tetapi kegiatan ekonomi menjadi macet berbalik menjadi resesi. Resesi tahun 1982/1983 adalah yang paling tajam dan belum pernah terjadi sejak zaman depresi dasawarsa 30. Akibatnya pengangguran meluas, terutama di Eropa Barat yang sampai saat ini masih mengalami adanya pengangguran. Kebijaksanaan moneter juga ditujukan pada pengelolaan gerak-gerik di pasar uang dan pasar modal melalui pengendalian tingkat bunga denagn menggunakan alat moneter yang tradisional yaitu open market operations.
Dari penjelasan diatas, maka dapat diambil rumusan masalahnya,antara lain:
1. Pokok pemikiran aliran monetaris
2. Tokoh aliran monetaris
3. Perbedaan aliran monetaris dengan aliran keynesian.
4. Kelemahan dan kelebihan aliran monetaris
PEMBAHASAN
1. POKOK PEMIKIRAN ALIRAN MONETARIS
Selama tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, di bawah pimpinan ekonom terkenal Milton Friedman dari Chicago University (kini hijrah ke Stanford University) telah berkembang suatu aliran pemikiran (school of thought) di dalam makroekonomi yang dikenal sebagai aliran moneteris (monetarism). Para ekonom dari aliran moneteris ini menyerang pandangan dari aliran Keynesian, terutama menyangkut penentuan pendapatan yang dinilai oleh mereka sebagai tidak benar. Kaum moneteris menghendaki agar analisis tentang penentuan pendapatan memberi penekanan pada pentingnya peranan jumlah uang beredar (money supply) di dalam perekonomian. Perdebatan yang lain menyangkut : efektifitas antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, peranan kebijakan pemerintah, dan tentang kurva Phillips (kurva yang menunjukkan  bahwa hubungan antara pengangguran dan inflasi adalah saling berkebalikan).
Bagi kaum moneteris, jumlah uang beredar merupakan faktor penentu utama dari tingkat kegiatan ekonomi dan harga-harga di dalam suatu perekonomian. Dalam jangka pendek (short run), jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat output dan kesempatan kerja; sedangkan dalam jangka panjang (long run) jumlah uang beredar mempengaruhi tingkat harga atau inflasi. Menurut Milton Friedman “inflasi ada di mana saja dan selalu merupakan fenomena moneter”. Pertumbuhan moneter atau uang beredar yang berlebihan dalam hal ini bertanggung jawab atas timbulnya inflasi, dan pertumbuhan moneter yang tidak stabil bertanggung jawab atas timbulnya gejolak atau fluktuasi ekonomi. Oleh karena pertumbuhan moneter sangat berpengaruh terhadap variabilitas, baik variabilitas dalam tingkat harga maupun pertumbuhan output (GNP), maka kebijakan moneter yang diambil pemerintah sedapat mungkin haruslah dapat menjamin terciptanya suatu tingkat pertumbuhan moneter atau jumlah uang beredar yang konstan dan tetap terkendali pada tingkat yang rendah.
Adapun gagasan pokok dari aliran moneteris yang dianggap penting di antaranya adalah :
Sektor atau perekonomian swasta pada dasarnya adalah stabil.
Kebijakan makroekonomi aktif seperti kebijakan fiskal dan moneter hanya akan membuat keadaan perekonomian menjadi lebih buruk.  Bahkan secara ekstrim mereka mengatakan bahwa “kebijakan makroekonomi yang aktif itu lebih merupakan bagian dari masalah, dan bukan bagian dari solusi”. Dengan perkataan lain, kaum moneteris menghendaki suatu peran atau campur tangan pemerintah yang seminimum mungkin di dalam perekonomian.
Seperti halnya dengan aliran Klasik, kaum moneteris berpendapat bahwa harga-harga dan upah di dalam perekonomian adalah relatif fleksibel, yang akan menjamin keadaan keseimbangan di dalam perekonomian selalu bisa diwujudkan.
Jumlah uang beredar merupakan faktor penentu yang sangat penting dari tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Berbagai pendapat atau gagasan kaum moneteris di atas, memiliki implikasi kebijakan yang penting , yaitu :
1.  Stabilitas di dalam pertumbuhan jumlah uang beredarlah yang merupakan kunci dari stabilitas makroekonomi, dan bukan kebijakan makroekonomi aktif yang menimbulkan fluktuasi dalam pertumbuhan jumlah uang beredar yang menjadi penentu kestabilan makroekonomi.
2.  Kebijakan fiskal itu sendiri memiliki pengaruh sistematis yang sangat kecil, baik terhadap pendapatan nasional riil maupun pendapatan nasional nominal; dan bahwa kebijakan fiskal (fiscal policy) bukanlah suatu sarana atau alat stabilisasi yang efektif.
2. TOKOH ALIRAN MONETARIS
Sebetulnya aliran monetaris sudah berdiri sejak lama. Hanya saja pandangan-pandagan kaum monetaris ini baru diperhatikan setelah terjadinya kasus membubungnya inflasi yang dibarengi dengan semakin tingginya tingkat pengangguran pada tahun 70-an. Tokoh utama aliran monetaris, tidak diragukan lagi, adalah Milton Friedman (1912-…), profesor ekonomi dari University of Chicago. Sesudah bekerja di komisi Sumber Daya Alam di Washington, ia bergabung sebagai staf peneliti National Bureau of Economic Research tahun 1937 (dalam usia 25 tahun!). Karena jasa-jasanya yang sangat besar dalam mengembangkan ilmu ekonomi, ia mendapat Hadiah Nobel tahun 1976.
Pandangan-pandangan Friedman dapat diikuti dan berbagai buku, jurnal serta artikel-artikel populer di majalah dan koran- koran Amerika. Buku-buku penting yang ditulisnya antara lain: Taxing to prevent Inflation (1943); A Theory of the Consumption Function (1957); A Programme for Monetary Stability (1960), Price Theory (1962); Capitalism and Freedom (1962); bersama Anna Schwartz menulis A Monetary History of the United States 1867-1960 (1963); Inflation: Causes and Consequences (1963); The Great Contraction (1965); The Optimum Quantity of Money (1969); A Theoritical Framework for Monetary Analysis (1971); kumpulan tulisan populer There ‘s No Such Thing Such as a Free Lunch (1975); Monetary Trends in The United States and the United Kingdom (1982) dan Bright Promises, Dismal Performance (1983).
Antara Friedman dan monetaris sering dianggap sebagai synonyms. Tetapi ini tidak berarti ia sebagai satu-satunya. Tokoh-tokoh lain yang dianggap sealiran, atau pendukung-pendukung aliran monetaris antara lain: Karl Brunner (University of Rochester), Allan Meltzer dan Bennet McCallum (dari Carnegie Mellon), Thomas Mayer (University of California, Davis), Phillip Cagan (Columbia University), David Laidler dan Michael Parkin (University of Western Ontario) dan William Poole (Brown University). Perlu juga dicatat bahwa pendukung aliran moiletaris tidak terbatas pada ahli-ahli ekonomi dan kalangan akademis saja. Lembaga seperti Federal Reserve Bank dan St. Louis dan komitekomite kongres juga banyak menganut perspektif monetaris.
3. PERBEDAAN ALIRAN MONETARIS DENGAN ALOIRAN KEYNESIAN
Banyak perbedaan pandangan antara kubu Keynesian dan monetaris dalam melihat gejala-gejala ekonomi. Dalam melihat perekonomian secara agregat kubu Keynesian percaya bahwa perekonomian cenderung berada dalam posisi keseimbangan tingkat output rendah (low level equilibrium). Ini terjadi karena pengeluaran agregat cenderung lebih kecil dari penerimaan agregat dan kurang ampuhnya mekanisme. pasar dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan, terutama tingkat harga-harga dan tingkat upah. Hal ini bisa terjadi karena adanya kekuatan serikat buruh dan praktek-praktek oligopolistik dari pihak perusahaan-perusahaan.
Kaum monetaris tidak percaya pda teori Keynesian yang mengatakan bahwa perekonomian cenderung berada pada keseimbangan tingkat output rendah disebabkan kurang ampuhnya mekanisme korektif untuk membawa pasar kembali pada posisi keseimbangan pemanfaatan sumber daya penuh. Dalam hal ini kubu monetaris mengritik bahwa ada kekuatan-kekuatan pasar yang tidak diikutkan dalam model yang dikembangkan Kubu Keynesian. Dua di antara kekuatan-kekuatan tersebut adalah turunnya suku bunga akan mendorong investasi dan turunnya tingkat harga akan mendorong konsumsi melalui apa yang disebut Pigoileffect. Bagi kubu monetanis perekonomian cenderung berada dalam posisi keseimbangan, di mana sumber daya digunakan penuh.
Karena perbedaan cara pandang di atas, maka implikasi kebijaksanaan dan kedua kubu tersebut juga berbeda. Misa1nya dalam usaha meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan dalam mengatasi pengangguran, kub Keynesian lebih menyukai kebijaksanaan fiskal yang bersifat ekspansif. Sebaliknya kubu monetaris lebih menyukai kebijaksanaan moneter yang kontraktif. Intenvensi pemerintah untuk meningkatkan output dengan menggunakan kebijaksanaan fiskal tidak disenangi Friedman Misalnya ada usaha untuk meningkatkan output dengan menurunkan pajak. Menurut Keynesian langkah ini akan meningkatkan output. Dalam ”Bahasa” kurva IS-LM yang dikembangkan Keynesian, hal ini tenjadi kanena penurunan dalam pajak akan mendorong kurva IS bergerak ke kanan. Tetapi menurut kaum mouetaris hal seperti ini tidak akan terjadi, sebab dalam perekonomian yang sudah memanfaatkan sumber daya secara penuh maka kurva LM berbentuk tegak lurus, dan dampak dan pergeseran kurva IS tidak akan memberi pengaruh pada output (crowding-out effect).
Antara kubu Keynesian dan monetris juga berbeda dalam melihac penyebab terjadinya fluktuasi ekonomi. Menunut kubu Keynesian tluktuasi ekonomi terjadi karena tenjadinya perubahan dalam faktor-faktor yang menentukan pendapaian nasional seperti pengeluaran pemerintah, investasj dan konsumsi masyaraicat. Sebaliknya menurut kubu monetaris fluktuasi ekonomi terjadi karena terjadinya pelonjakan-pelonjakan dalam jumlah uang beredar disebabkan adanya kebijaksanaan-kebijaksanan yang bersifat ekspansif dari pemerintah. Pendapat ini mengikuti pendapat pakar-pakar terdahulu seperti R.G. Hawxrey, F:A. Nayek dan Knut Wicksell, yang yakin bahwa terjadinya fluktuasi karena dipicu oleh faktor-faktor moneter, yang cenderung berakibat kumulatif dalam jangka panjang.
Dalam buku: A Pvlonetaiy History of the United States, 1867- 1960 yang ditulis oleh Friedman bersama-sama dengan Anna Schwartz, mereka menjelaskan kaitan yang sangat erat antara perubahan dalam jumlah uang dengan perubahan dalam tingkat kegiatan ekonomi.
Mereka menyimpulkan bahwa fluktuasi dalam jumlah uang sebagai penyebab fluktuasi dalam pendapatan nasional. Untuk mendukung argumen tersebut mereka menggunakan kasus depresi besar-besaran yang terjadi tahun 30-an. Menurut Friedman dan Anna Schwartz, hal ini berlangsung kanena terjadinya crash pasar modal tahun 1929 dan faktor-faktor lain yang diasosiasikan dengan berkurangnya aktivitas ekonomi tahun 20-an yang menyebabkan berkurangnya minat orang memegang surat-surat berharga, dan lebih menyukai memegang uang tunai. Tetapi sistem perbankan waktu itu tidäk bisa memenuhi permintaan akan uang tunai secara sekaligus dalam jumlah banyak dari masyarakat. Bank-bank (yang waktu itu jumlahnya hampir 2000 buah di seluruh Amerika Serikat) terpaksa menutup kantor. Sebagai konsekuensinya maka jumlah uang beredar anjlok. Tahun 1933 jumlah uang beredar diperkirakan 35 persen lebih rendah dari jumlah uang tahun 1929. Dengan alasan di atas kaum monetaris menyimpulkan bahwa fluktuasi dalam jumlah uang beredarlah yang menyebabkan terjadinya fluktuasi ekonomi, dan bukan sebaliknya sebagaimana yang dianut kubu Keynesian.
Kaum Keynesian percaya bahwa memang ada kaitan yang sangat erat antara jumlah uang beredar dengan fluktuasi ekonomi. Tetapi bagi mereka bukan keadaan moneter yang mempengaruhi fluktuasi, melainkan fluktuasi ekonomi yang mempengaruhi jumlah uang beredar. Bagi kubu Keynesian fluktuasi terjadi karena berubahnya faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran agregat, dan kebijaksanaan yang paling ampuh untuk meredakan fluktuasi tersebut adalah melalui kebijaksanaan counter-cyclical dengan lebih banyak menggunakan kebijaksanaan fiskal.
Kubu monetaris paling tidak suka dengan penggunaan kebijaksanaan fiskal untuk menstabilkan perekonomian. Alasannya, adalah sangat sulit mengimbangi setiap ayunan siklus ekonomi karena adanya faktor waktu (lag). Lebih lanjut Friedman mengatakan:
“There is likely to be a lag between the need for action and government recognition of the need; a further lag between recognition of the need for action and the taking of action; and a stilifurther lag between the action and its effects”.
Karena alasan di atas maka tidak heran jika kubu monetaris lebih jauh bahkan sangat meragukan keampuhan analisis dan studi neo-keynesian yang sering menggunakan model ekonometri skala besar. Sebab, dalam model-model skala besar tersebut tenggang waktu (time-lag) kurang diperhatikan. Karena danya tenggang waktu antara pembuatan model dan proses analisis dengan waktu mengaplikasikan, maka kebijaksanaan yang diambil bisa jadi sudah ketinggalan kereta. Mereka percaya dampak dan kebijaksanaan yang sudah ketinggalan tersebut bisa berakibat fatal bagi pembangunan.
Sebagai akibat dari perbedaan dalam melihat perekonomian secara agregat-agregat, maka antara kubu monetaris dan kubu Keynesian juga sangat berbeda dalam penggunaan kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi. Kenyataannya pada tahun 70-an dan 80-an terjadi debat panjang yang sangat panas antara kubu monetaris (diwakili Friedman) dengan pihak non-monetaris (termasuk kubu Keynesian, Franco Modigliani dan James Tobin) tentang kebijaksanaan yang sebaiknya ditempuh dalam menghadapi berbagai masalah ekonomi, seperti pengangguran dan inflasi.
Misalnya dalam menghadapi inflasi, terdapat perbedaan yang sangat tajam antara Keynesian dengan monetanis. Sebagaimana pernah dijelaskan sebelumnya, kubu Keynesian mennganggap inflasi terjadi karena pengeluaran agregat terlalu besar. Dengan demikian kebijaksanaan yang ditawarkan kubu Keynesian ialah dengan mengurangi jumlah pengeluaran agregat itu sendiei. Hal ini bisa dilakukan dengan mengurangi pengeluaran pemerintah atau dengan meningkatkan pajak. Kebijaksanaan moneter pun juga bisa dilakukan, yaitu dengan kebijaksanaan uang ketat. Kubu Keynesian tidak melihat konflik antara kebijaksanaan fiskal dan moneter. Keduanya di anggap sebagai komplemen. Bagaimanan, dalam praktek kaum Keynesian lebih sering menggunakan bijaksanaan fiskal, dengan alasan kebijaksanaan ini jauh lebih ampuh dalam menghadapi resesi.
Sebaliknya kubu monetaris menganggap inflasi terjadi karena jumlah uang beredar terlalu banyak. Jika jumlah uang beredar terlalu banyak harga-harga akan naik. Dengan demikian cara yang dianjurkan kaum monetaris dalam menghadapi inflasi ialah dengan mengurangi jumlah uang yang beredar itu sendiri.
Kebalikan dari kubu Keynesian yang lebih menyukai kebijaksanaan fiskal, kubu monetaris lebih suka menggunakan kebianaan moneter, sebab dampaknya lebih jelas dari pada kebiasaan fiskal. Anggapan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa perubahan dalam jumlah uang beredar akan menyebabkan ahan yang besar pula dalam tingkat suku bunga, yang pada nya akan menyebabkan perubahan yang besar dalam pendapatan nasional. Ini jelas terbalik dengan anggapan kaum Keynesian yang melihat perubahan dalam jumlah uang beredar tidak begitu mempengaruhi tingkat suku bunga sehingga dampaknya terhadap pengeluaran agregat juga kecil.
Kaum monetaris yang sangat memperhatikan agar jumlah uang yang beredai jangan bertambah terlalu cepat dari yang seharusnya, jelas menyalahkan kebijaksanaan fiskal yang ekspansif selama tahun 60-an, yang dianggap sebagai pangkal bala terjadinya kesulitan-kesulitan ekonomi di kemudian hari. Bagi kaum monetaris, melakukan pengeluaran pemerintah secara berlebihan tidak akan menguntungkan, justru dapat membawa kerugian. Yang jelas, jika inflasi terlalu tinggi perekonomian bisa macet. Bagi kaum monetaris inflasi dianggap sebagai musuh utama yang perlu diberantas sesegera mungkin. Kalau inflasi sudah reda, pemerintah harus membiarkan perekonomian menemukan sendiri laju pertumbuhannya yang normal.
Dari uraian di atas jelas bahwa kubu monetaris lebih menyukai kebijaksanaan moneter dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi dibanding kebijaksanaan fiskal. Bagaimanapun, dalam hal ini perlu dicatat bahwa kebijaksanaan moneter yang dianjurkan kubu monetaris adalah kebijaksanaan moneter yang sifatnya netral dan berorientasi ke arah pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Perbedaan di atas menyebabkan perkedaan selanjutnya ntara kubu Keynesian dengan kubu monetaris, di mana kalau kebijaksanaan yang dilakukan aliran Keynesian lebih sering bersifat ekspansif, sebaliknya kebijaksanaan yang digunakan oleh aliran monetaris cenderung kontraktif dan lebih konservatif. Dalam hal ini kubu monetaris lebih suka menaikkan laju pertumbuhan uang secara pelan-pelan tetapi konstan, sesuai dengan hukum pertumbuhan jumlah uang konstan (constant money growth rule). Kalau kubu Keynesian percaya bahwa pemerintah sebaiknya memegang peran utama dalam mengarahkan jalannya perekonomian lewat kebijaksanaan counter-cyclical dengan melakukan, fine-tunning, sebaliknya bagi kaum monetaris peran pemerintah harus dibatasi demi kelancaran jalannya perekonomian secara keseluruhan.
Perbedaan lain antara kubu monetaris dengan kubu Keynesian adalah mengenai jangka waktu analisis. Kubu Keynesian tidak terlalu memperhatikan analisis jangka panjang (sebab, seperti kata Keynes, dalam jangka panjang kita semua akan mati !). Tidak demikian halnya dengan kubu monetaris yang diwakili Friedman. Bagi Friedman dampak jangka panjang dari berbagai kebijaksanaan ekonomi harus diperhatikan untuk mengetahui kekuatan pasar.
Kelompok monetaris percaya bahwa kebijaksanaan peningkatan jumlah uang dalam jangka pendek berpenganuh terhadap output riil. Dalam bahasa kurva IS-LM yang dikembangkan kubu neo-Keynesian, kenaikan dalam jumlah uang akan menggeser baik kurva LM maupun kurva IS ke kanan, yang berarti peningkatan dalam jumlah output. Tetapi gejala seperti ini hanya berlangsung dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang perubahan dalam jumlah uang hanya menyebabkan harga-harga naik, sedang output riil maupun jumlah kesempatan kerja tidak akan bertambah. Dengan demikian kebijaksanaan moneter yang terlalu ekspansif tidak disukai kubu monetaris. Dalam hal ini belum diperhitungkan dampak negatif yang mungkin timbul, di mana kenaikan harga-harga dapat mengakibatkan semakin berkurangnya kesejahteraan golongan-golongan masyarakat tertentu, terutama mereka yang berpenghasilan tetap (seperti pegawai negeri).
Dengan alasan yang sama maka Friedman tidak suka mempromosikan full-employment dengan kebijaksanaan uang mudah (easy money policy), dan juga tidak senang menghindari inflasi dengan menggunakan kebijaksanaan uang ketat (tight money policy). Sebab dampak jangka panjang dari kedua kebijaksanaan tersebut bisa saja berlawanan dengan yang diharapkan untuk jangka pendek.
Kecaman lain dan kubu monetaris terhadap kubu Keynesian ialah bahwa dalam analisis IS-LM nya kubu Keynesian sama kali mengabaikan pasar tenaga kerja. Oleh Friedman dan kawan-kawan pasar tenaga kerja kembali diperhatikan. Hal ini secara tidak langsung telah membuka cakrawala baru dalam pengembangan teori-teori ekonomi, sebab teori-teori tentang ekonomi sumber daya manusia semakin berkembang sesudah itu.
4. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN ALIRAN MONETARIS
KELEMAHAN :
Menurut pandangan Keynesian, kebijakan moneter mungkin sangat tidak efektif.  Beberapa kekurangannya berasal dari asimetri kebijakan tersebut, perubahan dalam kecepatan (yang dapat menggagalkan kebijakan), dan ketidakpastian dari investasi yang diambil (terutama jika bukan bunga sensitif).
Kekurangan utama dari kebijakan moneter adalah asimetri.  Yaitu, suatu kebijakan uang ketat adalah sangat efektif guna mencegah pinjaman baru karena kelebihan cadangan dikurangi, namun kebijakan yang mudah sepertinya menjadi tidak efektif karena tambahan kelebihan cadangan tidak akan dipinjamkan ke luar oleh bank karena takut akan potensi kebangkrutan dari para peminjam selama masa resesi.  Dengan demikian, disarankan untuk tidak menggunakan kebijakan moneter, malah menggunakan kebijakan fiskal.
Kebijakan moneter mungkin digunakan baik untuk mengendalikan persediaan uang maupun tingkat suku bunga.  Tetapi, keduanya tidak dapat dikendalikan pada waktu yang sama.  Dengan demikian hal tersebut menjadi dilema.
KELEBIHAN :
1. Kaum monetaris mengatakan bahwa perekonomian cenderung berada pada keseimbangan tingkat output rendah yang disebabkan kurang ampuhnya mekanisme korektif untuk membawa pasar kembali pada posisi keseimbangan pemanfaatan sumber daya penuh.
2. Kaum monetaris menyatakan bahwa turunnya suku bunga akan mendorong investasi dan turunnya tingkat harga akan mendorong konsumsi melalui Pigou effect. Bagi kubu monetaris perekonomian cenderung berada dalam posisi keseimbangan, dimana sumber daya digunakan penuh.
3. Dalam usaha meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan dalam mengatasi pengangguran, kaum monetaris lebih menyukai kebijaksanaan moneter yang kontraktif. Intervensi pemerintah untuk meningkatkan output dengan menggunakan kebijaksanaan fiskal tidak disenangi Friedman. Misalnya ada usaha untuk meningkatkan output dengan menurunkan pajak.
4. Kaum monetaris, terutama Friedman, dinilai sangat berjasa meluruskan falsafah liberal kaum klasik kembali sebagaimana yang diajarkan oleh Adam Smith. Argumentasi Friedman untuk menyokong ajaran klasik tersebut ialah bahwa benefit yang diterima dari kebijaksanaan laissez faire jauh lebih besar dari benefit yang ditrerima lewat terlalu banyaknya campur tangan pemerintah. Dengan anggapan seperti ini pakar-pakar ekenomi masa sekarang berusaha mengembalikan orientasi analisis pada ajaran klasik, baik mengenai asumsi yang dipergunakan, struktur model yang disusun, metodologi yang dipergunakan, memandang arti penting uang dalam ekonomi, maupun dalam memilih kebijaksanaan ekonomi yang hendak dijalankan.
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Kaum monetaris, terutama Friedman, sangat berjasa dalam menekankan arti penting laju pertumbuhan uang terhadap aktivitas-aktivitas ekonomi: Dilihat dari upayanya tersebut ia dapat dianggap sangat berhasil. Sebab, sebagaimana diucapkan oleh pakar ekonomi makro Franco Modigliani: We are all monetarists now, dalam artian bahwa hampir semua pakar ekonomi masa sekarang percaya akan arti penting laju pertumbuhan stok uang dalam perekonomian.
Secara keseluruhan harus diakui bahwa pengaruh pandangan Friedman dalam kebijaksanaan ekonomi sangat besar. Hal ini dapat dilihat dan diadopsinya kebijaksanaan moneter barn oleh pemerintah Amerika Serikat (the Fed’s) tahun 1979. Friedman sangat anti dengan peran pemerintah yang kelewat besar dalam perekonomian. Jika penerimaan pemerintah terlalu besar maka otomatis pengeluarannya juga harus besar, padahal banyak program-program pemerintah dinilai tidak efektif dalam mencapai sasaran. Pengaruh pandangan Friedman di atas dapat dilihat dari program pemotongan pajak yang dilakukan pemerintahan Reagan tahun 1981.
Pengaruh pandangan Friedman juga dirasakan di Indonesia, terlihat dari kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi, yang pada intinya mengurangi cengkeraman pernerintah yang kelewat besar dalam pérekonomian Indonesia. Begitu jüga dalam menghadapi inflasi tahun 1993 dan tahun 1994, pemerintan juga terlihat berusaha mati-matian menekan laju inflasi di bawah dua digit, sebab para pakar ekonomi di Indonesia, dan juga kaum praktisi, telah mengetahui dampak negatif yang sangat besar dan keadaan inflasi, yang secara sangat vokal disuarakan oleh Milton Friedman dan kubu monetaris.

BAB 12 neo keynesian dan pasca keynesian

Penerus ajaran Keynes yg tergolong Neo-Keynesian sering disederhanakan menjadi Keynesian.
Mereka banyak berjasa dlm mengembangkan teor-teori yg berhubungan dgn usaha menjaga stabilitas perekonomian. Teori-teori tersebut menerangkan & mengantisipasi fluktuasi ekonomi (business cycle) & teori-teori yg berhubungan dgn pertumbuhan & pendapatan.
Pandangan2 mereka disebut Keynesian karena teori-teori mereka diturunkan dari teori determinasi pendapatan Keynes. Disebut Neo karena teori-teori Keynes tersebut sudah banyak diperbarui berdasarkan penelitian-penelitian empiris yag lebih baru.
Kelompok kedua yg disebut pasca Keynesian atau post Keynesian adalah sekumpulan ahli ekonomi. Sekumpulan ahli itu menyatakan berbagai pandangan tentang ekonomi makro modern.
Pemikiran-pemikiran ekonomi mereka berakar dari pemikiran-pemikiran Keynes, namun sudah berkembang lebih jauh.

TOKOH-TOKOH KEYNESIAN
1. Alvin Harvey Hansen (1887-1975)
    Hansen mengaitkan permasalahan mengenai pendapatan nasional, investasi, & kes. kerja dgn gerak gelombang atau fluktuasi ekonomi.
2. Simon Kuznets (1901-1985)   
    Kuznets berhasil menggabung ilmu statistik & ilmu matematika dgn ilmu ekonomi menjadi suatu kesatuan yg padu. Ia juga banyak enyumbangkan pemikiran tentang hal-hal yg berhubungan dgn perhitungan pendapatan nasional. Hubungan antara pendapatan nasional, konsumsi, tabungan, pengangguran, inflasi, & harga-harga dapat dikaji/diamati menurut analisis kurun waktu (time series analysis)
3. John R. Hicks (1904 …
    Hicks telah ikut berjasa dlm mengembangkan pemikiran-pemikiran Keynes. Salah satu jasanya yg sangat besar ialah kemampuannya dlm merangkai teori-teori ekonomi mikro kedlm kerangka teori makro Keynes mel;alui pendekatan matematika. Hicks bersama-sama dgn Hansen memperkenalkan analisis IS-LM. Analisis ini sangat bermanfaat dlm menjelaskan hubungan  antar berbagai variabel dlm perekonomian.
4. Wassily Leontief (1906…)
    Leontief dinilai sangat berjasa dlm mengembangkan sebuah teori yg ternyata menjadi sangat berguna untuk berbagai analisis ekonomi, yaitu analisis input-output. Menurut Leontief, hubungan & keterkaitan antar sektor dlm perekonomian dpt digambarkan dlm suatu matriks. Matriks ini pada intinya berisi tabel-tabel tentang output masing-masing sektor.
5. Paul Samuelson (1915…)
    Memperlihatkan bagaimana perdag. luar negeri dimasukkan dlm kerangka umum teori ekonomi makro. Atas jasanya banyak negara yg lebih terdorong untuk lebih membuka pasarnya terhadap perekonomian internasional. Mem-perlihatkan bagaimana hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik ini saling memperkuat antara faktor pengganda (multiplier) dgn accelerator dpt dijelaskan secara sederhana. Permintaan efektif masyarakat dipengaruhi oleh autonomous investment (investasi yg besarnya ditentukan oleh perekonomian itu sendiri). Dampak investasi terhadap perekonomian menjadi berlipat ganda karena adanya multiplier, besarnya angka pengganda atau multiplier ini sangat ditentukan oleh kecenderungan mengonsumsi (propensity to consume) ma-syarakat. Makin besar kecenderungan mengkonsumsi, makin besar angka pengganda, makin besar pula dampak investasi terhadap  perekonomian.
    Dampak investasi terhadap perek. menjadi jauh lebih besar karena adanya ak-selerator. Prinsip akselerator secara sederhana adalah perubahan dlm penda-patan nasional akan menyebabkan terjadinya perubahan dlm jumlah investasi. Perubahan dlm investasi menyebabkan bertambahnya pendapatan nasional melalui proses akselerasi, yg bersifat kumulatif. Interaksi antara multiplier & akselerator berdampak terhadap pendapatan nasional menjadi semakin berlipat ganda.

B. TEORI GELOMBANG PERUSAHAAN (Business Cycle)

Kontribusi Marx yg paling penting bagi pemahaman kita tentang siklus ekonomi adalah pernyataannya tentang dua prinsip
    Pertama, fluktuasi ekonomi melekat dlm sistem kapitalis, sebab fluktuasi terjadi karena kekuatan-kekuatan yg ada dlm sistem ekonomi
    Kedua, penyebab utama siklus ekonomi ditemukan dlm kekuatan-kekuatan yg menentukan pengeluaran investasi.
Bagi kaum neo-keynesian, fluktuasi ekonomi terjadi karena dua penyebab utama
    pertama, terjadinya perubahan-perubahan adlm tingkat investasi & rendahnya tingkat konsumsi.
    kedua, fluktuasi terjadi karena tidak a&ya mekanisme koreksi yg mampu mendorong perekonomian pada keseimbangan kesempatan kerja penuh (full employment equilibrium).

C.TEORI PERTUMBUHAN & PEMBANGUNAN

Bagi Schumpeter, pelaku utama pertumbuhan ekonomi adalah karena a&ya entrepreneur. Entrepreneur bukan hanya seorang pengusaha atau manajer, melainkan seseorang yg mau menerima resiko & mengintrodusiasi produk-produk & tekhnologi baru dlm masyarakat.
Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi akan berkembang pesat dlm lingkungan masyarakat yg menghargai & merangsang orang untuk menggali penemuan-penemuan baru.

Banyak pakar yg yakin bahwa negara2 berkembang bisa maju dgn melalui beberapa tahapan pembangunan sesuai dgn teori2 peren-canaan pembangunan. Teori pembangunan yg paling terkenal dari WW Rostow(1916). Negara2 berkembang yg ingin maju melalui tahap2 pembangunan sbb :
1. Tahap tradisional statis. Tahap ini dicirikan oleh keadaan Iptek yg masih sangat rendah & belum begitu berpengaruh terhadap kehidupan. Perekonomian pun masih didominasi sektor pertanian-pedesaan. Struktur sosial-politik juga masih bersifat kaku.
2. Tahap Transisi (pra take-off).Pada tahap ini Iptek mulai berkembang, produktivitas semakin meningkat & industri semakin berkembang. Tenaga kerja beralih dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan tinggi, kaum pedagang bermunculan, & struktur sosial-politik semakin membaik.
3. Tahap lepas landas.Tahap ini dicirikan oleh keadaan suatu hambatan-hambatan sosial politik yg umumnya dapat diatasi, tingkat kebudayaan & Iptek semakin maju, investasi & pertumbuhan tetap tinggi, & mulai terjadi ekspansi perdagangan ke luar negeri.
4. Tahap dewasa (maturing stage). dlm tahap ini masyarakat semakin dewasa, dapat menggunakan Iptek sepenuhnya, terjadi perubahan komposisi angkatan kerja, di mana jumlah tenaga kerja yg skilled lebih banyak dari yg aunskilled, serikat-serikat dagang & gerakan-gerakan buruh semakin maju & berperan, pendapatan perkapita tinggi.
5. Tahap konsumsi massa (mass consumption).Tahap ini merupakan tahap terakhir. Masyarakat hidup serba kecukupan, kehidupan dirasakan aman tentram, laju pertumbuhan penduduk semakin rendah.

Ada lima hal yg perlu diperhatikan dari pemikiran-pemikiran pasca-keynesian
Pertama, mereka cenderung berpendapat bahwa penyesuaian lebih banyak terjadi lewat penyesuaian kuantitas daripada harga. Penyesuaian harga, kalau terjadi, sering dilihat sebagai disequilibrium.
Kedua, pendistribusian pendapatan antara laba & upah memainkan peran penting dlm mempengaruhi keputusan investasi.
Ketiga, mereka menganggap bahwa ekspektasi, bersama-sama dgn laba, adalah penentu utama perencanaan investasi.
Keempat, mereka percaya unsur-unsur kelembagaan kredit & keuangan berintegrasi mempengaruhi siklus ekonomi.
Kelima, fokus pembahasan teori-teori pasca-keynesian adalah menjawab pertanyaan mengapa perekonomian tidak bekerja dgn mulus seperti asumsi klasik.

Pemikiran-pemikiran ekonomi pasca-keynesian lebih berupa kumpulan ide-ide, tetapi tidak diformulasikan secara sistematis.




PEMIKIRAN SOSIALISME PRA MARX

Sebelum munculnya sistem ekonomi sosialisme, dunia barat telah mapan menggunakan sistem ekonomi kapitalis. Banyak bermunculan tokoh pemikir ekonomi kapitalis, seperti Robert Malthus, David Ricardo, J.B. Say, dan J.S. Mill. Mereka tergabung kedalam mahzab klasik yang dimotori oleh Adam Smith. Pemikiran mereka lebih berorientasi kepada sistem ekonomi pasar, atau liberal, atau kapitalis.
Sistem liberalisme-kapitalisme menimbulkan banyak kontroversi, karena pada prakteknya kaum borjuis (bangsawan) yang lebih diuntungkan. Ini terlihat dari penguasaan mereka atas negara. Oleh mereka negara dijadikan sebagai kekuatan dan alat pemaksa untuk mengatur organisasi ekonomi politik dan kemasyarakatan guna memenuhi berbagai kepentingan mereka.
Kaum borjuis berada pada puncak perekonomian, kepemilikan akan modal yang besar membuat mereka bertindak semaunya. Hal ini mendapat tentangan dari kaum proletar (buruh), yang hidupnya semakin tertindas.
William Blake (1775-1827) menggambarkan bahwa kapitalisme telah merusak keadaan Inggris yang semula damai, kemudian membawa masyarakat ke arah hidup penuh persaingan dan perkelahian .
Berangkat dari kenyataan dimana kapitalisme tidak membawa keadilan bagi masyarakat dan hanya menguntungkan segelintir orang (kaum borjuis), maka muncullah para pemikir-pemikir ekonomi baru yang lebih berorientasi pada kesejahteraan masyarakat berdasar azas keadilan dalam perekonomian. Ajaran-ajaran mereka lebih dikenal dengan sosialisme.
Pemikiran-pemikiran ekonomi beraliran sosialis secara garis besar dapat dibagi atas tiga kelompok:
1.    Kelompok pemikir sosialis sebelum Marx.
2.    Pandangan Marx dan Engels.
3.    Kelompok pemikir sosoalis sesudah Marx.

A.    Pengertian Sosialisme dan Komunisme
Istilah sosialisme dapat merepresentasikan banyak arti. Selain sistem ekonomi, juga menunjukkan aliran falsafah, ideologi, cita-cita, ajaran-ajaran atau gerakan. Menurut J.S. Mill , secara sempit sosialisme ialah kegiatan menolong orang-orang yang tak beruntung dan tertindas.
Secara luas, sosialisme diartikan sebagai bentuk perekonomian yang pemerintahannya paling kurang bertindak sebagai pihak yang dipercayai oleh seluruh warga masyarakat untuk mengelola perekonomian, termasuk kewenangan untuk menguasai unit produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan menghilangkan kepemilikan oleh swasta (Brinton, 1981).
Jadi, sistem ini mengharuskan akan adanya kepemilikan secara kolektif terhadap sumber-sumber produksi. Negara eks Soviet dan Inggris-yang dikuasai oleh partai buruh- dapat dimasukkan ke dalam sistem sosialis.

Bagaimana dengan komunisme?. Karena istilah sosialisme sering muncul bersamaan dengan komunisme. Pada dasarnya istilah komunisme dan sosialisme tidak banyak perbedaannya, bahkan Marx menggunakannya secara bergantian.

Istilah ”komunisme” pertama kali muncul sejak meletusnya revolusi Bolshevik  tahun 1917. Menurut Brinton (1981), sosialisme menggambarkan pergeseran milik kekayaan dari swasta ke pemerintah yang berlangsung secara perlahan-lahan melalui prosedur pemerintah dengan memberikan kompensasi kepada swasta. Sedangkan pada komunisme peralihan kepemilikan dilakukan secara cepat dan paksa tanpa memberikan kompensasi.
Jadi, walaupun tujuan yang akan dicapai sama, tetapi cara yang digunakan berbeda. Dapat dikatakan bahwa komunisme adalah bentuk sosialisme yang paling ekstrem. Karena untuk mencapai masyarakat komunis yang dicita-citakan diperoleh melalui suatu revolusi. Sistem sosialisme-komunisme sering juga disebut sistem ”perekonomian komando” atau sistem ”ekonomi totaliter”, karena negara mutlak menguasai unit-unit ekonomi.
Aliran sebelum Marx ini sering dimasukkan kedalam sosialis, karena pemikirannya yang lebih bersifat utopis (dalam angan-angan) walau ada beberapa tokoh aliran ini yang berusaha untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan.
Untuk itu pemikiran sebelum Marx ini dibagi atas dua konsep. Yaitu sosialisme utopis dan sosialisme komunitas bersama.

B.    Pemikiran-Pemikiran Sosialisme
1.    Sosialisme Utopis
Sosialisme bukan hal yang baru, gagasan ini sudah ada sejak jaman Yunani kuno, dimana Plato berpendapat bahwa negara hanya akan baik kalau dipimpin dan diperintah oleh orang-orang baik serta negarawan ulung, yang disaring dari seluruh anggota masyarakat. Karena gagasannya ini Plato dianggap sebagai pendiri ajaran sosialisme. Menurut Plato, sistem pemerintahan yang baik adalah berbentuk totaliterisme, dikendalikan dan dipimpin oleh orang terpandai dan terpilih.

Tokoh sosialis utopis adalah Sir Thomas More (1478-1535).
Istilah sosialis utopis berasal dari buku beliau “utopia”, dimana More memimpikan suatu negara impian, dimana semua milik merupakan milik bersama. Semua orang tinggal dalam suatu tempat bersama. Makanan serta segala kebutuhan lainnya disediakan secara bersama-sama pula.
Orang tidak perlu bekerja mati-matian dalam waktu lama, melainkan cukup sekedar dapat memenuhi kebutuhannya saja. Toleransi hidup ditanamkan.

Tulisan lain yang senada dengan More, antara lain dapat dilihat dari karangan: Tomasso Campanella (1568-1639) berjudul Civitas Solis; Francis Bacon (1560-1626) berjudul New Atlantis; dan James Harrington dengan judul Oceana.
Para pemikir-pemikir itu mempunyai kesamaan pandangan akan suatu negara impian dimana sosialisme menjiwai perekonomiannya.
Dan akhirnya angan-angan tetaplah angan-angan yang akan selalu berada di alam bawah sadar manusia. Tetapi di kemudian hari buku-buku yang bersifat utopia itu akan mempengaruhi pemikir sosialis lainnya.

2.    Sosialisme Komunitas Bersama
Pada awalnya sosialisme hanya merupakan suatu utopis dimana berada dalam angan-angan manusia. Akan tetapi dilain pihak ada tokoh sosialis yang merealisasi cita-cita mereka dalam kenyataan. Diantaranya adalah Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837), dan Louis Blanc (1811-1882).

Robert Owen adalah seorang pengusaha yang kaya. Penderitaan yang pahit membuatnya berpikir bagaimana menciptakan suatu komunitas yang ideal, dimana kesejahteraan masyarakat sangat diperhatikan. Untuk itu Owen membangun pabrik sebagai model untuk perbaikan kesejahteraan para pekerja, yang disebut parallelogram. Ide Owen tentang sosialis dapat dilihat dari bukunya ”The New View of Society”. Ia juga menuntut adanya partisipasi pemerintah.

Sama seperti Owen, Fourier dan Blanc juga berhasil merealisasikan pemikirannya dengan membentuk suatu daerah ideal yang berdasar atas pemikiran sosialisme. Tetapi sayang komunitas-komunitas itu tidak dapat bertahan lama karena beberapa faktor antara lain (1)oposisi dari beberapa kapitalis; (2)kekurangan modal; (3)tidak kuat bersaing dalam sistem kapitalis-liberalis; (4)serta kelemahan dalam pengelolaan.

    Dapat dikatakan bahwa ide pemikir sosialis adalah masih bersifat utopis, bersifat angan-angan, dan terlalu naif untuk diikuti. Karena dinilai idealisme mereka memang tinggi, tetapi secara teoritis-praktis tidak bisa direalisasi. Kalaupun ada yang merealisasi kebanyakan akan segera layu sebelum berkembang. Barulah ditangan Marx, ide sosialisme memperoleh ”landasan ilmiah” untuk berkembang menjadi sesuatu yang realistis.

C.    Tokoh-Tokoh Sosialis Pra Marx
    Sosialis Utopis
J.S. Mill (1806-1873); Sir Thomas More (1478-1535); Tomasso Campanella (1568-1639); Francis Bacon (1560-1626); dan James Harrington.

    Sosialis Komunitas Bersama
Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837), dan Louis Blanc (1811-1882).
There was an error in this gadget

Tentang Blog

Berisi Kumpulan Materi Kuliah Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Semoga Bermanfaat!!

Blog Stats

Google+ Followers

Followers

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS