BAB 9 Aliran Sejarah

ALIRAN SEJARAH (HISTORIS)

Dengan berhasilnya tokoh-tokoh neo-klasik dalam mementahkan serangan pemikiran-pemikiran sosialis/marxis, maka bendera system liberal/kapitalisme kembali berkibar dan pada waktu bersamaan, di Jerman perkembangan suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut Aliran Sejarah(his tor is m ).

Pola pemikiran aliran sejarah didasarkan pada prespektif sejarah. Kerangka dasar teoritisnya berikut pola pendekatan yang digunakan oleh aliran sejarah dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi sangat berbeda dan terpisah dari aliran utama(mainstream) yang berawal dari kaum klasik. nama aliran sejarah diinspirasikan oleh keberhasilan metode sejarah dalam bidang- bidang hukum dan bahasa. Dari beberapa pakar Jerman sendiri ada yang menamakan alian sejarah sebagai aliran “etis”, untuk menunjukan ketidak senangan mereka pada pahamhidonis m e klasik.
A.
SERANGAN TERHADAP METODE KLASIK

Pemikiran pemikiran klasik secara eksplisit mengakui bahwa manusia berdasarkan hakikatnya bersifat serakah (paham hidonisme). Paham ini kemudian dikembangkan menjadi pahamutilitarian isme.

Pendekatan- pendekatan tersebut menurut para pemikir aliran sejarah dinilai terlalu sempit. Menurut doktrin aliran sejarah, motif orang untuk bertindak tidak hanya didasarkan pada motif laba dan kepentingan pribadi, tetapi juga didorong etika dan implus-implus lainnya.

Pandangan kaum klasik perekonomian diserahkan kepada kekuatan pasar, dimana setiap orang diberi kebebasan berbuat demi kepentingan masing-masing. Dan akhirnya melalui apa yang disebut invisible hand, akan tercipta suatu harmoni secara keseluruhan. Pemikiran seperti ini juga dikecam oleh pakar-pakar sejarah, sebab dinilai terlalu mekanistis, dan menghendaki agar hal ini diganti dengan dasar pemikir yang lebih etis.
Pada intinya pemikir aliran sejarah menolak argumentasi pemikir pemikir klasik bahwa ada undang-undang alam tentang kehidupan ekonomi. Bagi mereka masayarakat harus di ganti sebagai satu kesatuan organisme dimana interaksi sosoial berkait dan berhubungan antar individu. Pemikir- pemikir aliran sejarah menghendaki agar kegiatan masayarakat dilandasi pada suatu system yang menyeluruh, yang mencakup semua organisme dalam kehidupan bermasayarakat sebagai suatu keseluruhan. Penganut aliran sejarah yang tidak percaya pada mekanisme pasar bebas klasik pada umumnya sepakat untuk meminta campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Investasi pemerintah diharapkan mampu membawa proseos ekonomi pada tujuan-tujuan sosial dan ekonomi yang diinginkan bersama dan tanpa campur tangan pemerintah dalam perekonomian tidak akan ada jaminan keadailan sosial.

Bagi pemikir-pemikir sejarah, fenomena-fenomena ekonomi merupakan produk perkembangan masayarakat secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan sejarah, karena itu semua pemikiran, teori, dan kesimpulan ekonomi harus di landaskan pada empiris sejarah. Pemikir-pemikir aliran sejarah tidak setuju dengan anggapan kaum klasik dan neo-klasik bahwa prinsip-prinsip ekonomi berlaku secara universal.

Pemikir-pemikir aliran sejarah dengan gencar menyerang metode pendekatan deduktif yang digunakan kaum klasik. Dengan pendekatan deduktif analisis ekonomi bertitik tolak dari pengamatan secara umum. Kemudian dari pengamatan secara umum itu diambil kesimpulan secara khusus (reasoning from the general to the particular). Bagi pakar aliran sejarah metode deduksi ini dinilai terlalu abstrak dan terlalu teoritis, dimana dari beberapa postulat kemudian mang-claim bahwa pemikiran-pemikiran mereka belaku umum(universal). Menurut kau sejarah metode deduksi ini sering tidak sesuai dengan realitas, dan karenanya sering membawa kita kedalam kesimpulan yang sering keliru. Untuk mengatasi kelemahan metode klasik tersebut maka pemikir-pemikir aliran sejarah menawarkan metode induktif-historis.

Pola pendekatan induksi empiris berpangkal tolak dari pengamatan dan pengkajian yang bersifat khusus, dan dari sisi ini diambil suatu kesimpulan umum (reasoning from the particular to the general). Dengan metode induksi empiris maka hukum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori ekonomi hanya berlaku suatu tempat pada waktu-waktu tertentu, sebab hukum, dalil maupun teori ekonomi sangat tergantung pada kondisi dan lingkungan setempat.
B.
TOKOH-TOKOH ALIRAN SEJARAH
Tokoh-tokoh aliran sejarah sangatlah banyak, namun yang akan
dibahas kali ini yang dianggap paling penting saja, diantaranya yaitu :
1. Friedrich List (1789-1846)

Friedrich List lahir dan memperoleh pendidikan di Jerman. Ia pernah mengajar di Negara tersebut, tetapi idenya memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat. Salah satu buku list yang terkenal adalah:Das
Nationale System der Politischen Oekonomie, der Internationale Handel,
die Handels Politik und der Deutche ollverein, atau dalam bahasa
Inggrisnya: The National System of Political Economy, International
Trade, Trade Policy and the German Customs Union (1841). Dalam buku-
buku tersebut List menyerang pakar-pakar klasik yang disebutnya
“kosmopolitan” sebab mengabaikan peran pemerintah.

Lebih lanjut List mengatakan bahwa kita biasa mengambil kesimpulan tentang perkembangan suatu masyarakat dari data sejarah. Dari cara mereka berproduksi maka setiap kelompok masyarakat pada umumnya melewati tahap-tahap sejarah sebagai berikut:

a.) Tahap berburu dan menangkap ikan, atau tahapbarbarian, yang berciri masayarakat primitif sebab kebutuhan dari apa yang disediakan oleh alam,
b.) Zaman mengembala ataupastoral, yang mulai berternak tapi masih
nomaden atau tidak menetap,
c.) Zamanagr ar is, dimana masyarakat mulai menetap dan bertani secara
subsisten,
d.) Zaman bertani, menghasilkan industri manifaktur sederhana dan mulai
melakukan perdagangan lokal, dan
e.) Masyarakat bertani, manufaktur lebih maju dan telah melakukan
perdaganagan internasional.

Menurut List, system perdagangan bebas yang dianjurkan kaum klasia hanya cocok bagi negara-negara yang sudah berada pada tahap ke lima (waktu itu misalnya Inggris), tapi system perdagangan bebas jelas tidak cocok untuk keadaan Jerman waktu itu, yang keadaan industrialisasinya agak tertinggal dengan keadaan industrialisasi di negeri Inggris.Untuk memajukan perekonomian Jerman, List menyarankan agar

pemerintah menyusun berbagai kegatan ekonomi sebagai bagian dari kegiatan produksi dan kemampuan nasional. Dua sektor utama yang sangat menentukan perekonomian nasaional adalah sektor pertanian dan industri. Menurut List sektor pertanian diperlukan untuk menyediakan bahan pangan masyarakat, namun sektor ini tidak dapat membawa perekonomian lebih maju. Lebih tegasnya List berpendapat bahwa negara harus juga memajukan perekonomian melalui sektor industri, dan industrialisasi lah yang merupakan langkah awal membawa perekonomian lebih maju. Namun industrialisasi tidak hanya bertujuan untuk memajukan sektor industri, tetapi lebih jauh juga membawa perbaikan pada sektor pertanaian serta perkembangan dan kemajuan dibidang-bidang lainnya, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat luas.
Dari uraian di atas jelas bahwa List lebih banyak mencurahkan perhatian pada permasalahan ekonomi, terutama bagaimana melindungi industrialisasi Jerman yang waktu itu tertinggal dari industrialisasi Inggris.
2. Bruno Hildebrand (1812-1878)

Hildebrand aktif dalam berbagai penelitian dan penulisan karya karya ilmiah. Dalam melakukan penelaan dan penelitian-penelitian ekonomi, ia menekankan perlunya mempelajari sejarah, maksudnya penelitian ekonomi harus didukung oleh data statistik empiris yang dikumpulkan dalam penelitian sejarah ekonomi.

Hildebrand juga menekankan pentingnya evolusi dalam perekonomian masyarakat. Menurut Hildebrand, dilihat dari cara tiap kelompok masyarakat dalam melakukan tukar-menukar dan berdagang, kelompok-kelompok masyarakat tersebut dapat dibedakan atas tingkatan- tingkatan sebagai berikut:

a.) Tukar-menukar secara in-natural atau barter,
b.) Tukar menukar dengan perantara uang,
c.) Tukar menukar dengan menggunakan kredit.

Penelitian Hildebrand diatas dianggap cukup baik dalam bidang sosiologi dan kurang bermanfaat dalam bidang ekonomi. Yang mana kelemahannya yaitu beberapa penelitan berdasarkan pada monografi sejarah yang bersifat deskriptif tentang masalah-masalah ekonomi, tetapi karyanya tersebut tidak ditujukan pada acuan yang padu. Oleh sebab itu karya-karya penelitan sejarah Hildebrand tersebut dinilai tidak berarti dalam perkembangan ilmu ekonomi.
3. Gustav von Schmoler (1839-1917)

Schmoler terkenal karena terlibat dalam perdebatan yang sangat sengit dan pakar-pakar klasik, terutama dengan Carl Menger, tentang metodologi perkembangan ilmu ekonomi. ia dianggap sebagai pemikir sejarah yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasi
ditukar dengan metode induktif-empiris. Pandangan Schmoler agak berbeda dengan pandangan tokoh-tokoh aliran sejarah lainnya, yang mana tokoh-tokoh sejarah yang lainnya menghendaki berbagai kebijakan di dalam bidang ekonomi, Schmoler menghendaki agar kebijaksanaannya menyangkut politik sosial, dan lebih jauh dari itu, juga meningkatkan kesejahteraan kaum buruh.

Untuk mencapai tujuannya Schmoler dan rekan-rekannya mendirikan sebuah forum untuk menghimpun pemikiran-pemikiran dalam menghadapi berbagi masalah ekonomi dan sosial, dan hasil pertemuan serta kesimpulan disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan. Salah satu berhasilnya pertemuan-pertemuan yang di sampaikan kepada pemerintah dengan dibentuknya undang-undang untuk melindungi kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang diberikan kepada kaum buruh tersebut yang sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan dianggap sangat maju untuk zaman bagi dirinya, sebab dinegara-negara Eropa pada umumnya belum ada perundang-undangan perlindungan kaum buruh seperti yang di Jerman tersebut.
4. Werner Sombart (1863-1941)

Penelitan Sombart yang sering dikutip oleh orang adalah penelitannya tentang tahap-tahap perkembangan kapitalisme. Sombart mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan masyarakat. Dalam karyanya:Der
Moderne Kapitalismus (1902), Werner Sombart lebih lanjut mengatakan
bahwa pertumbuhan masyarakat kapitalis dapat dibedakan atas beberapa
tingkatan, yaitu:
a.) Tingkat pra-kapitalisme

Pada tingkat pra-kapitalisme kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, struktur sosial masih berat kearah pertanian, kebutuhan manusia masih rendah, uang belum dikenal, motif laba
maksimum masih belum nampak, dan produk seluruhnya lebih
ditunjukan untuk diri sendiri.
b.) Tingkat kapitalisme menengah

Pada tingkat ini walaupun kehidupan ekonomi masih bersifat komunal, tetapi mulai memperlihatkan ciri-ciri individualisme, struktur pertanian industri mulai berimbang, masyarakat mulai mengenal uang, motif laba maksimum mulai nampak, dan produksi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi ditunjukan juga untuk pasar.
c.) Tingkat kapitalisme tinggi

Pada tingkat ini disebutkan tingkat kapitalisme tinggi, ciri masyarakat komunal hilang, paham individualisme mulai menonjol, struktur ekonomi semakin berat ke industri dan perkotaan, peran uang semakin menonjol, motif laba maksimum makin kelihatan, dan sebagian produksi dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
d.) Tingkat kapitalisme akhir

Tingkat ini ditunjukan oleh ciri-ciri dimana sikap individualisme lebih tinggi, tetapi kepentingan masyarakat tidak diabaikan, industri mulai ke padat modal, disamping uang kartal juga mulai di kenal uang giral, motif laba maksimum lebih tinggi, tetapi juga dipertimbangkan penggunaan laba untuk kepentingan masyarakat, dan produksi untuk pasar.
5. Max Weber (1864-1920)

Max Weber adalah ahli sosiologi dalam arti luas dimana ilmu ekonomi dan sejarah ekonomi oleh Weber juga dimasukan sebagai ilmu sosiologi. Dalam bukunya yang cukup terkenal, yaitu The Protestant Ethic
and the Spirit of Capitalism (1958) ia menjelaskan ada pengaruhnya ajaran
agama Protestan terhadap prilaku ekonomi.
Perilaku ekonomi kapitalis, kata Weber, bertolak dari harapan akan keuntungan yang akan diperoleh dengan m,empergunakan kesempatan bagi tukar menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan keuntungan secara damai. Hasil pengamatan Weber menunjukan bahwa golongan penganut agama Protestan, terutama kaum Calvinis menduduki tempat teratas. Menurut orang Calvinis keselamatan hanya diberikan pada orang-orang terpilih, hal inilah yang mendorong orang bekerja keras agar masuk menjadi golongan orang terpilih tersebut. Dalam pemikiran teologis inilah semangat kapitalisme yang bersandar pada cita, ketekunan, hemat, rasional, berperhitungan, dan sanggup menahan diri, menemukan pasangannya.

Tidak semua orang menerima tesis Weber, diantaranya yang menentang, yaitu Bryan S Turner, R.H.Tawney, Kurt Samuelson, Robert N. Bellah, Andrew Greeley, dan tokoh-tokoh lainnya yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan ekonomi, misalnya penelitian tentang masyarakat islam dan penganut-penganut agama Tokugawa di Jepang. Kritik-kritik tersebut antara lain dapat dibaca dalam buku yang diedit Taufik Abdullah: Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi (1979).
6. Henry Charles Carey (1793-1879)

Henry Carey adalah seorang pemimpin gerakan proteksionis dari Amerika Serikat. Dalam karyanya: Principles of Social Science, Carey menekankan perlunya diversifikasi industri untuk menciptakan lapangan pekerjaan lebih luas. Menurutnya suatu negara yang hanya mengandalkan pembangunan pada ekspor produk-produk pertanian dinilainya sebagai tindakan yang bodoh dan merugikan.

Pendukung-pendukung aliran sejarah yang lain dari Amerika Serikat adalah Simon Nelson Patten dan Daniel Reymond. Nelson Patten (1852-1992) mengajukan argumen-argumen yang menyokong proteksi sebagaimana yang dikemukakan oleh Carey. Sedangakan Daniel Reymond
(1786-1849) adalah seorang ahli hukum yang kemudian tertarik dengan persoalan-persoalan ekonomi. Daniel Raymond merupakan ekonom politik penting pertama muncul di Dia menulis Thoughts on Political
Economy (1820) dan The Elements of Political Economy(1823).

Daniel Reymond berteori bahwa “kekayaan menciptakan tenaga kerja,” yang mungkin telah perbaikan berdasarkan pemikiran Adam Smith dari Eropa. Daniel Raymond berpikir bahwa ekonomi Inggris sebenarnya perekonomian berpangkat lebih tinggi anggota masyarakat, dan bukan ekonomi seluruh bangsa. Ia berpendapat bahwa kekayaan bukanlah suatu agregasi nilai tukar, seperti Adam Smith telah mengandung itu. Daniel Raymond berpendapat bahwa kekayaan adalah kemampuan atau kesempatan untuk mendapatkan keperluan dan kemudahan hidup oleh tenaga kerja.
Pada tahun 1845, ia menulis sebuah buku judul “The Elements of
Constitutional Law” yang mencakup definisi dasar sebuah pemerintahan,

sebuah negara berdaulat, sebuah konfederasi dan sebuah konstitusi. Sementara konsep-konsep ini telah berevolusi, banyak teori-teori dasar yang masih memiliki relevansi yang diuraikan dalam analisis politik modern. Tulisannya mempengaruhi perkembangan politik di Amerika Serikat.

Jika di perhatikan, dapat dikatakan bahwa doktrin aliran sejarah kurang jelas. Lebih tegas mereka tidak mengembangkan suatu “system” melainkan lebih merupakan reaksi terhadap pemikiran-pemikiran klasik dan neo-klasik. Pemikir sejarah lebih banyak hanya mengkritik metode deduksi klasik, tetapi tidak melihat kelemahan dari metode induksi empiris mereka sendiri.Yang mana kelemahan utama induksi ialah sulitnya mencapai suatu kesimpulan yang padu tentang perekonomian masyarkat.

Keuntungan lain yang biasa dipetik dari serangan pemikiran-pemikiran aliran sejarah terhadap kaum klasik ialah dalam pengembangan penelitian metode ekonomi. Oleh Schumpeter, perdebatan tentang metode induksi dan deduksi ini dinilai sebagai penghambur-penghambur energi saja. Tetapi tentu tidak semua orang berpendapat dengan Schumpeter, sebab sebagaimana yang terbukti kemudian dari perdebatan ini lahir suatu kesadaran bagi pemikir-pemikir ekonomi di kemudian hari, bahwa dalam melakukan penelitian ekonomi sebaiknya di gunaka metode deduksi (reasoning from the general to the particular) dan induksi(reasoning
from the particular to the general) secara hilir mudik, yang kemudian dikenal
dengan metode reflective thinking
Untuk mengembangkan industri dosmetik, List menganjurkan adanya suatu lembaga negara yang akan melindungi industri dalam negara melalui pajak impor, dan pemerintah secara intervensi untuk menyeimbangkan pertanian, industri dan perdagangan.